“Lelaki itu malah terbahak-bahak sampai menutup mukanya dengan tapak tangan lalu menjawab, Anda salah, Anda salah, mereka bukan pembantu saya, perempuan itu istri-istri saya, Jeumpa-Jeumpa saya. Sebuah jawaban yang menamparku, membuatku menekan rasa cemburu yang berkecamuk dalam dada. Lalu ia bercerita kalau beberapa tahun yang lalu negerinya bermasalah dengan negara tetangga, yang membuat Sultan memutuskan menyerang Pedir, negara tetangga mereka. Dalam penyerangan tersebut, mereka menang besar, mayat-mayat musuh mereka jatuh bergelimpangan. Lalu mereka memotong organ-organ kelamin mayat-mayat itu biar musuh mereka tidak bisa bersenang-senang dengan bidadari yang telah menunggu di surga. Meurah Saga berhasil membunuh empat puluh tujuh orang musuh. Karena itu, ketika mereka pulang dengan membawa kemenangan, Sultan mengawinkan Meurah Saga dengan empat puluh tujuh perempuan. Besok dan lusa kau akan mengenal kesemua istriku itu, ujar Meurah Saga kala itu. Mahar keempat puluh tujuh istriku adalah empat puluh tujuh tengkorak musuh. Tuan memanggil mereka Jeumpa, itulah nama mereka? Tanyaku lebih untuk mengalihkan perhatian. Oh, tidak, mereka sangat banyak, susah mengingat masing-masing nama mereka, jadi saya panggil saja semuanya Jeumpa, meski saya juga lupa yang mana di antara mereka yang sebenarnya bernama Jeumpa, jawab Meurah Saga seraya tersenyum bangga.”
“Mengetahui kalau perempuan ketiga puluh adalah istri Meurah Saga, aku berusaha sekuat tenaga untuk melupakan perempuan itu, namun cinta memang seperti iblis yang tak kenal belas kasih. Semakin berusaha kulupakan, perempuan itu malah tak mau pergi dari lamunanku, ia mulai nekat datang dalam setiap mimpiku. Aku menjadi tidak selera makan dan lekas marah, menanggung derita menyukai istri orang lain, membayangkan mereka bercinta membuatku sangat tersiksa. Karena derita yang tak terbayang itu, aku memutuskan melakukan makar saat Meurah Saga menyambangi kebun ladanya di lembah. Sebelumnya kami memuat kapal dengan lada dan emas, mengisi gentong dengan air-air sungai. Dan pada malam keempat puluh delapan, aku menghasut awak kapal untuk membakar rumah tempat kami tinggal sementara, rumah yang berdempetan dengan bangunan lain di perkampungan yang padat itu. Api menjadi tak terkendali, aku menyelinap ke rumah Meurah Saga dan menarik tangan perempuan ketiga puluh yang terlihat ketakutan untuk mengikutiku dengan perahu menuju galiung.”