Mahar Empat Puluh Tujuh Jeumpa

Penasaran dengan suku yang diceritakan sang kakek, Abelia mulai mencari referensi tentang suku tersebut di kampus. Membaca banyak jurnal, bertanya pada para cendekia membuat Abelia sampai pada satu kesimpulan; suku yang diceritakan kakeknya ketika kakeknya berlabuh di sana bukanlah lagi suku primitif. Dalam sebuah jurnal disebutkan, adat pernikahan dalam kerajaan Aceh adalah dengan membayar mahar berupa emas pada calon istri dan mereka sudah memiliki undang-undang. Cerita Maurice seperti bercampur baur dengan sebuah jurnal lain yang ditulis pada tahun 851 oleh seorang penjelajah angkatan pertama. Mungkin yang diceritakan Maurice adalah mimpi terakhir seorang lelaki yang akan mati dan teringat pada cinta masa mudanya. Hal itu sekaligus memupus keraguan bahwa ayah mereka bukanlah putra nenek mereka. Jika pun cerita itu benar, tak mungkin seorang bayi bisa bertahan hidup tanpa belaian perempuan yang menyusuinya dalam mengarungi lautan luas tak bertepi hingga sampai ke Prancis. Abelia tersenyum memandang potret Maurice yang berbingkai emas di ruang duduk rumah berlantai dua itu, tak pernah menyadari bahwa seorang perempuan mungil berkulit gelap juga sedang menatap potret yang sama di samping gadis itu.

 

Ida Fitri, lahir di Bireuen, Aceh. Kumpulan cerpennya berjudul Air Mata Shakespeare (2016) dan Cemong (2017).

Arsip Cerpen di Indonesia