“Dengan laut biru sebagai saksi, aku menikahi perempuan itu, perempuan yang tak bisa berbahasa melayu, apalagi bahasa kita. Menurut awak kapal, aku telah menjadi gila, untuk perempuan seperti itu, aku bisa menidurinya layak seorang pelacur tanpa perlu menikahinya seperti perempuan terhormat Eropa. Cinta memang membutakan. Saat singgah di Gujarat, aku menemui seorang pendeta untuk menikahkan kami secara resmi. Perempuan mungil itu kulihat mulai bisa tersenyum kembali, meski tidak kunjung mengatakan namanya padaku, sepertinya ia telah menerima sepenuhnya nasib yang menimpanya dan mencoba berbahagia dengan itu. Kami tinggal beberapa lama di negeri itu. Saat bertolak dari Gujarat, perempuan itu telah hamil beberapa bulan.”
Maurice terbatuk-batuk, kemudian Abelia memberinya air putih yang ia tuangkan dari ceret yang berada di atas meja dan Maurice melanjutkan ceritanya kembali.
“Kembali ke Prancis bukanlah perjalanan singkat. Hujan dan badai silih berganti meneror galiung kami. Perempuan yang telah mengandung anakku itu sebelumnya pasti tidak pernah mengarungi lautan, lautan yang seakan tak bertepi. Keadaannya mulai memburuk, ia demam dan muntah. Hingga pada suatu pagi, setelah semalaman aku merawatnya karena demam, ia menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Aku membuat repot awak kapal dengan menyuruh mereka memanaskan air dan merebus pisau. Pada siang hari, putraku lahir dengan selamat, tapi perempuan itu terbujur mati. Aku menangis di sisi tubuh itu, terus menungguinya, berharap ia bangun kembali. Setelah tiga hari, bau busuk mulai keluar dari mayat perempuan yang kucintai itu. Dengan tanganku sendiri, aku membuang tubuhnya ke laut, menjadi santapan ikan-ikan. Sejak saat itu, aku tidak pernah menginjakkan kaki di gereja lagi. Tuhan telah membunuh perempuan itu.”
Maurice terlihat sangat emosional, ia mulai tersedu-sedu. Abelia menyodorkan sapu tangan bersulam yang dirajutnya sendiri. Gadis itu baru mengetahui ada perempuan lain dalam hidup sang kakek selain nenek mereka. Dan ada seorang anak laki-laki di antara mereka. Abelia dan Ferdinan terlihat menahan diri untuk bertanya nasib anak lelaki itu kepada kakeknya yang terlihat menyedihkan itu. Maurice pamit untuk beristirahat pada kedua cucunya, dan kesibukan kampus membuat keduanya tidak sempat berbicara lagi dengan Maurice. Setiap mereka ingin menemui kakeknya, lelaki itu selalu dalam keadaan tidur atau tidak ingin ditemui. Tiga hari kemudian, mereka mengubur Maurice, tanpa sempat menanyakan nasib anak lelaki Maurice yang notabene paman mereka itu. Dan kemungkinan terburuk lainnya, anak lelaki itu bisa saja ayah mereka. Mereka mulai memikirkan ciri-ciri fisik ayah mereka yang bisa menautkannya pada ibu kulit berwarna.