Sesuatu kemudian berbeda, ketika orang berbicara politik, atau seseorang yang tiba-tiba iseng membandingkan keadaan pemerintahan masa lalu dengan masa kini.
Maklum, musim politik telah tiba di daerahnya, Terdapat banyak calon anggota dewan di daerahnya. Orang-orang telah sibuk membicarakannya, terpisah-pisah dalam masing-masing dukungan, terlibat dalam debat kecil yang orang bilang kewajaran demokrasi.
Masih tak masuk dipikiran Daeng Kahar. Pergolakan politik telah melukai hatinya. Ia dulu adalah bagian dari tentara veteran yang turut berjuang menghadapi penjajah. Terkadang ia bangkit dari ilusinya, meski semua telah usai, dan tak ada lagi orang yang akan menculiknya, atau orang bersenjata yang menyerang malam-malam di perkampungan. Meski telah berulangkali kukatakan bahwa ini telah zaman kemerdekaan, kita telah bisa bepergian keluar kampung dengan bebas, atau menyusuri pantai di sore hari. Tapi tidak, ia bersedih, sangat bersedih, atas hasil kemerdekaan yang ia dan teman-temannya perjuangkan.
Untuk menutupi semuanya, ia menyanyikan lagu masa lalunya. Lagu yang ia sebut selalu ia nyanyikan bersama anak-anak dahulu, untuk memberi mereka semangat untuk tidak menyerah dan tetap berjuang hingga kemerdekaan tiba. Dan ia saksikan, betapa orang-orang bersatu, sekata untuk berjuang, sepenanggungan untuk kebahagiaan masa depan.
Namun sekarang, saat ia mendengar kata perang, politik, dan pejuang, ia menjadi bersedih, suaranya mendadak lirih, dadanya kembang kempis penuh emosi. Kata-kata itu masuk dalam daftar kosa kata “kabar buruk” dalam hidupnya. Ingatannya seperti memutar kembali di masamasa perjuangannya, saat berjuang mati-matian membela Negara.
“Sekarang, orang justru menjatuhkan Negara, nak, kau tahu!”
“Mengapa Daeng?” tanyaku, dengan tiga lipatan di kening bertanda heran.
“Mereka tak becus mengurus. Bagaimana mungkin? Sebuah negara yang besar, telah hampir seabad berdaulat, tak maju-maju. Tak tahu mereka betapa susahnya merebut kedaulatan itu? Tak tahu mereka penderitaan Pak Soekarno dan pejuang kemerdekaan menyatukan suara rakyat Indonesia, tahu apa mereka tentang perjuangan?”
Ia menepuk bahuku, menatapku cukup lama, mungkin iba atas ilmuku yang masih amatiran.