Daeng Kahar

Saya tak tahu harus berkata apa. Senyap. Seketika pikiranku melayap, melahap kisah-kisah yang dihadirkan televisi akhir-akhir ini. Pertengkaran politik, korupsi pejabat, persaingan partai, sampai pada pemilu yang ricuh. Untungnya, di rumah Daeng Kahar tak ada televisi, hingga ia tak tahu bahwa keadaannya lebih kacau dari yang ia kira. Lagi pula, ia bukan orang yang tertarik pada televisi.

Sesekali, ia duduk berlama-lama di teras rumahnya, sambil mengangkankan kedua kakinya, memandang langit, lalu memperhatikan sesuatu yang ada di kepalanya. Malam-malam, jika tak ada kerjaan saya biasa berkunjung ke rumahnya, mendengarkannya berkisah. Ia, seperti orang tua kebanyakan, senang ngobrol. Senang berkisah tentang kisah-kisah masa lalu.

Dahulu….. “atau” waktu ayahmu masih muda….Ia senang mengawali ceritanya dengan kalimat seperti itu. Mengabarkan kearifan dan keluhuran yang dimiliki orang-orang dahulu.

“Dahulu, tidak banyak orang pintar, tapi sangat banyak orang lurus…” begitu salah satu kalimatnya yang kuingat.

“Apa maksudnya, Daeng?” Mendadak hatiku bergetar saat itu. “Apakah Daeng akan mengatakan bahwa sekarang setelah begitu banyak orang pintar justru begitu sulit ditemukan orang lurus?”

“Syukurlah kamu tahu. Nyatanya memang telah seperti itu. Zaman telah hampir sepenuhnya berganti, orang-orang bahkan sudah tak menyadari arti bahaya di luar sana.”

Saya semakin tidak mengerti. Kukira Daeng Kahar telah keliru menilai situasi, atau mungkin terlahap halusinasi. Negara kita telah aman, tidak ada lagi hal-hal bahaya yang bertebaran di luar sana. Tak akan ada lagi penembakan yang merenggut nyawa, atau pengancaman mental sekalipun.

“Jangan membayangkan senjata, Anakku. Bayangkanlah perang yang tak terlihat.” Jawabnya berfilosofis, seperti membaca pikiranku.

Saya pun membayangkan duniaku, dunia anak-anak muda seusiaku. Yang seperti telah tersita waktu dan pemikirannya oleh teknologi, didikte peradaban dan tak menyisakan ruang untuk berpendirian. Membayangkan demokrasi dan kekacauan yang makin membesar bersamaan, serta pemilu yang sebentar lagi. Para rakyat akan memilih lagi. Sebentar lagi, uang dibagikan, masjid-masjid didatangi pejabat, dan orang-orang akan berkumpul menyatakan dukungan. Sebentar lagi, pinggir jalan akan dipenuhi baliho, pohon-pohon ditempeli pamflet, lalu orang-orang akan terlibat menyeragam di dalamnya.

Arsip Cerpen di Indonesia