Dua Serigala di Dalam Rumah

Setelah menghitung uang itu, ia mendengar pintu rumahnya diketuk. Aha! Penyewa kamar di belakang sudah tiba. Sopian senang sekali dan membuka pintu. Dikembangkannya senyum terbaik dan mempersilahkan orang itu masuk. Sopian sedikit terkejut. Ia hampir berteriak menyebut petugas kereta api.

“Kau? Silahkan masuk.” Sopian ingin sekali tertawa atas keadaan itu tapi ia tahan dan bersikap ramah.

“Kebetulan sekali. Ah, aku sudah berhenti dari tempatku bekerja dan memulai hal baru dengan istriku. Maka kami akan mengontrak kamar untuk beberapa bulan.” Mantan petugas kereta bicara Sopian mengangguk-angguk, ia memanggilnya dengan sebutan itu.

“Namaku Deriban. Padahal kita cukup lama saling menyapa di stasiun. Apa kau sudah mendapat pekerjaan yang baru?”

Sopian menggeleng. Ia celinguk melihat seorang perempuan tergopoh-gopoh dari taksi menuju tempat mereka berdiri. Ia hampir menjerit karena melihat mantan kekasihnya memeluk Deriban.

“Jadi kalian…?”

“Sopian!” Fira tak kalah kaget dan memandang sekeliling dengan penuh arti. Ia melepaskan pelukannya dan berkata. “Ini suamiku, Pian. Aku pikir kau datang ke pernikahan kami. Kenalkan ini teman lamaku,” Fira mengenalkannya kepada Deriban.

Sopian menghela napas. Menyalami lagi sambil mendengarkan Deriban bercerita mengenai perjumpaan mereka di stasiun.

“Jadi kami akan menyewa kamar di sini. Aku sudah melihatnya dan tertarik. Aku akan bayar tiga bulan di muka.” Fira tersenyum mengeluarkan sejumlah uang lalu berkelakar. “Sepertinya aku akan betah tinggal di sini lebih lama.”

Sopian kembali ke kamarnya dan meninju angin. Tak ada yang mendengar ia sedikit terisak sambil mengumpat. Ia akan melihat mantan kekasihnya setiap hari melewati halaman dan pagar. Ia juga akan mendengar cekikikan keromantisan mereka. Mengingat itu, Sopian merasa muak sekali.

Beberapa hari selanjutnya, Sopian sudah memutuskan akan mengembalikan uang sewa Deriban agar mereka pergi dari kamar itu. Sopian tersiksa dengan suara gaduh mereka di malam hari, bahkan tak ada suara lain yang didengar Sopian selain suara mereka berdua. Itu sangat menjengkelkan. Sopian sudah mengetuk pintu kamar Deriban berulang-ulang. Saat tak ada yang membuka pintu, Sopian mencoba mengintip lewat jendela kamar dan tak ada yang tampak karena kaca serta gordennya tertutup rapat. Tapi saat Sopian hendak kembali ke kamarnya, Fira membuka pintu dengan menguap panjang.

Arsip Cerpen di Indonesia