“Maaf, aku tertidur pulas. Ada apa pemilik kamar?” tanyanya dengan acuh.
Sopian terdiam, lidahnya kelu. Rasa-rasanya ia ingin memeluk perempuan itu tapi Deriban muncul dengan wajah kesal dan berdiri di belakang Fira. Dengan terbata-bata Sopian meminta mereka pergi dari kamar itu, hingga esok pagi batas waktu. Lalu tanpa mendengarkan kekesalan mereka, Sopian pergi dan menutup pintu. Ia menunggu dengan kesal hingga esok pagi ia terbangun dan tidak mendapati kantong berisi setengah pesangon di dalam kamarnya.
“Aku sudah memasukkan dua srigala ke dalam rumah.” Sopian mengurung diri di dalam kamar dan merobek daftar belanja yang rencananya akan ia beli. Dipecahkannya lampu hadiah yang sempat ia beli untuk mantan kekasihnya itu. Lalu sebuah telepon masuk dan Sopian bicara dengan orang itu. Ia tidak menyesali apapun lagi, tidak ada mantan kekasih, tidak ada orang yang menyakitinya, besok ia akan bekerja lagi di sebuah tempat yang cukup bagus, stasiun kereta api. Sopian tersenyum, ia sudah mendapatkan pekerjaan baru. ***
BumiLangit. 2018