Lelaki Peri

“Tugasmu hanyalah mendapatkan cuti. Selebihnya adalah urusanku.” Betapa manisnya kau Sam.

“Jika kau tertarik, dapat ditindaklanjuti soal untuk dosen tamu. Tidak lama kok, hanya tiga bulan.”

Seketika, perang di dadaku bergemuruh laksana pasukan berkuda dua bala tentara. Satu pihak berjuang atas namamu. Pihak lain adalah amarah, ketika menyadari aku, perempuanmu, nyaris busuk menunggu di sudut perpustakaan. Tidakkah kau berpikir bahwa pertemuan dua manusia di antara rak buku adalah hal paling romantis di dunia? Matamu yang tajam dan alismu yang tebal, adalah daya.

***

Sebuah siang di perpustakaan …

“Hai, Namaku Sam.” Sebuah tangan terulur di mukaku. Mataku merebut wajahmu yang tersamar di keremangan cahaya jendela dan rak buku.

“Cantik tapi sombong.” Kau mendengus kesal saat aku tak menanggapai salam perkenalanmu yang norak.

“Kamu tak punya nama?” Kejarmu di antara upayaku melangkah pergi.

“Satu kata saja.” Desakmu. Aku menuju parkir motor, memasang helm, kau berdiri di ambang pintu perpustakaan.

“Nama!!” teriakmu.

Demi melihat wajahmu yang kesal dan penuh permohonan, maka sambil berlalu dengan motor kuteriakkan…

“Rosalia!!”

“Itu bus pariwisata!!”

Hey Tengik! Ayahku memberi nama itu melalui puasa, kau dengan enteng mengatakan bus pariwisata. Ingin rasanya melempar sneaker ini ke arahmu. Aku melaju sambil merapal doa: Tuhan, jauhkan aku dari lelaki tak beradab semacam dia. Lelaki rombeng yang gaduh hanya di kalengnya.

Beberapa hari kemudian…

“Rosalia!”

Refleks kepalaku berputar, mataku menghisap sepasang mata menyembul dari balik terali pagar.

“Bagaimana kau temukan alamatku?” Lelaki itu nyengir, lalu membuka pagar, masuk tanpa kupersilakan.

Arsip Cerpen di Indonesia