Lelaki Peri

“Lelaki memiliki 1.001 cara untuk menemukan apa yang ingin dia temukan.”

Kemudian, kau menjadi catatan penting pada perjalanan hidupku selanjutnya.

***

Hey, Sam…

Sekarang, aku dalam pesawat Turskish Air menujumu. Kau akan menjemputku dengan wajah barumu yang sedikit matang. Kita akan berjumpa di Atatürk Uluslararası Havalimanı, bandara utama negeri keduamu. Kita akan menyelami kota sejarah yang penuh catatan darah dan air mata, perpaduan timur dan barat yang rupawan.

Kau akan menemaniku mengunjungi rumah sang Mevlana Rumi di Konya, sembari melantunkan sebait doa di tepi nisannya yang bertaburan kaligrafi. Ini bulan April, festival tulip akan menghiasi kota kecil Konya dan kota-kota lain di seluruh wilayah Turki.

Jika cuaca bagus, kita akan mengendarai balon udara di Cappadocia. Seratus dolar pasti bukan masalah buatmu dan kita mengakhirinya dengan menenggak anggur merah nonalkohol. Inilah impian setiap pelancong dari seluruh dunia. Jadilah guide yang baik saat aku menjelajah reruntuhan Efesus, mencoba bagaimana rasanya duduk di kloset pembuangan umum yang berjajar secara masal tanpa sekat dan pelindung. Ah, tentu, kau juga harus menemaniku mengelilingi selat Bosporus dengan kapal yang legendaris itu, dan menungguiku mengenakan baju tradisional Turki.

Hari penting itu menjadi sebuah debar berganda dan berpangkat. Aku berhasil melampaui antrian meliuk-liuk di terminal kedatangan Ataturk. Lalu, pertanyaan dalam bahasa Turki yang baru kali ini kudengar dan petugas imigrasi tidak seluruhnya berbahasa Inggris. Setelah ujian pertama usai, ujian berikutnya adalah, menemuimu. Di barisan penjemput yang semuanya berjaket warna gelap, udara berkisar 10 Celsius. Aku menemukan seraut wajah khas yang tak mudah kuhapus dari ingatan.

Kau berlari

Menubrukku

Aku mengambil jarak

Mundur selangkah

Kuberi dia tempat untuk menjabat tanganmu.

Kau menatapnya terperangah, matamu melebar. Kau dan dia berjabatan.

Arsip Cerpen di Indonesia