Membela Tuan Presiden

“Lah, biasa pegang papan penggilesan kepengen jadi pegawe kantoran!” ujar Bang Mamat naik pitam. “Entar sawan lu liat komputer! Emang susah ngomong ame lu, La. Kagak ngarti pulitik mau omong pulitik. Baru dikasih stiker ame kaus aje udeh buta mata!”

Kesal, Bang Mamat segera merenggut kaus yang dibawa istrinya, lalu sekuat tenaga dia sobek kaus itu hingga jadi perca.

“Nih, mending lu jadiin topo ni kaos. Lebih berpaedah!”

Mata Mpok Lela terbelalak. Darahnya serasa naik ke ubun-ubun. Mpok Lela menangis keras. Ia masuk ke dalam rumah lalu kasak-kusuk di kamar. Tak lama kemudian, ia berlari ke luar sambil membawa bungkusan dan tas yang sering dia bawa saat bepergian.

Bang Mamat terdiam di depan pintu. Ia tak mencegah atau bertanya ke mana istrinya pergi. Ia pun masih sangat geram atas kekeraskepalaan Mpok Lela yang memilih calon tuan presiden yang berbeda. Kalau saja azan magrib tak berkumandang, tentu ia masih ingin memperpanjang babak pertengkaran dengan istrinya.

Sejak saat itu, Mpok Lela tidak pulang lagi ke rumah petak yang ia tinggali bersama Bang Mamat. Ia tinggal di rumah majikannya, Bu Meri. Ia merasa sudah tidak cocok hidup bersama Bang Mamat yang sudah dia nikahi hampir 20 tahun itu. Mpok Lela juga merasa Bang Mamat kini telah berubah perangai dan tutur katanya; tak lembut dan jenaka seperti dulu.

Bang Mamat sudah beberapa kali datang ke rumah Bu Meri untuk mengajak Mpok Lela berbaikan. Namun perempuan itu tetap tidak mau pulang ke rumah sampai suaminya bersedia memilih calon tuan presiden jagoannya. Ketika Bang Mamat memaksa Mpok Lela pulang, perempuan itu mengancam akan pulang ke rumah abanya.

Ancaman itu mujarab untuk menghentikan upaya Bang Mamat. Ia lebih takut Mpok Lela pulang ke rumah orang tuanya di Menteng Tenggulun, sebab sang aba, mertuanya yang mantan jawara itu, akan marah besar. Meski sudah tua, aba Mpok Lela masih gagah dan disegani banyak orang.

Untuk marah kepada Bu Meri, yang dia anggap telah meracuni pikiran Mpok Lela sehingga istrinya berani dengan lantang memilih calon tuan presiden, Bang Mamat juga sungkan, sebab Bu Meri dan keluarganya sejak lama telah banyak membantu mereka, termasuk saat Mpok Lela keguguran dan dinyatakan tak bisa lagi memiliki anak.

Arsip Cerpen di Indonesia