Jadi Bang Mamat akhirnya membiarkan keinginan istrinya tinggal di rumah Bu Meri. Tak ada jalan lain. Ia pun tak rela dipaksa Mpok Lela melepaskan tuan presiden pilihannya.
“Ini soal prinsip!” tegas Bang Mamat berkali-kali dalam hati.
Namun makin hari Bang Mamat merasa kian menderita. Tak ada lagi kopi buatan Mpok Lela. Tak ada senyum manis dan gerak tubuh istrinya yang sering kali menerbitkan gairah pada waktu-waktu tertentu. Bang Mamat rindu pada suara istrinya yang dulu, sebelum-gonjang ganjing pilpres berlangsung. Keceriaan istrinya sering kali menjadi obat pelipur lelahnya setelah seharian berkeliling kompleks.
Kini, pilpres tinggal hitungan hari. Bang Mamat berangkat kerja dengan lesu, pulang dengan lesu. Ia pergi tidur dengan perasaan hampa, terbangun dengan hampa yang sama.
Ketika suatu hari merasa hampir gila karena rindu Mpok Lela, Bang Mamat menangis tersedu-sedu. Jauh dalam lubuk hati ia berharap, calon tuan presiden yang mati-matian ia puja akan datang membela, membantu membawa Mpok Lela pulang ke pelukannya. (28)
Nilla A Asrudian, penulis lepas, berdomisili di Depok, Jawa Barat. Buku cerpennya Warna Cinta(-mu Apa?) dan Lakon dari Negeri Sengkarut, sedangkan novelnya Aku Adiva.