Nuri

Betapa hangat perasaan Nini Laba tatkala anaknya pulang. Nuri tampak anggun saat memperagakan jas putih dengan stetoskop. Nuri ialah pelita yang terus-menerus dinyalakan sebagai estafet harapan kedua orang tuanya yang baru punya anak di usia cukup tua. Semua tanah, kebun, dan emas dijual demi kuliah Nuri yang tinggal menghitung beberapa bulan. Apa pun mereka lakukan, meski rumah semakin miring, dan renovasi terakhir dilakukan ketika Nuri lulus SMP.

Sekarang pertengahan Juni semakin dekat, Nini Laba giat mencari tambahan uang untuk memanjakan anaknya ketika ada di rumah. Ia tahu, anaknya senang makan juhu singkah dengan wadi patin dan sambal kandas. Jadi, pelan-pelan, ia membeli daging patin beberapa potong di pasar Selasa. Beberapa pedagang heran melihat kedatangan Nini Laba yang lusuh dan jarang. Beberapa mempergunjingkannya, kebanyakan melontar penasaran dalam tatap.

Akan tetapi, Nini Laba tidak peduli. Ia tetap melanjutkan belanja ke dua daftar berikutnya, beras ketan dan garam batu. Setelah itu, ia pulang ke dapurnya yang rikuh dan menyangrai ketan untuk dicampurkan pada patin berlumur garam di dalam stoples.

Dalam pikiran Nini Laba, Nuri akan datang membawa berita gemilang. Ia akan kembali bercerita tentang susahnya menghafal simtom dan pertanda penyakit tertentu. Nini Laba sesungguhnya tidak paham, tetapi ia coba dengar setulus mungkin.

***

Foto-foto Nuri menguning di ruang tamu. Walau dibersihkan setiap hari, debu tetap erat menempel seperti kenangan di benak Nini Laba. Ia rindu anaknya, tetapi tak bisa berbuat apa-apa selain menanti. Tidak ada gambar baru, terakhir rekam hanya saat Nuri berhasil masuk tes fakultas kedokteran. Setelah itu kosong. Dinding tampak tidak seimbang di satu sisi. Nini Laba ingin menyimpan ruang itu untuk kelulusan anaknya nanti.

“Nanti kalau anak kita sudah jadi dokter, kita akan jadi orang tua dokter,” cerita Nini Laba. Berbeda dari istrinya, Kai Djamal tidak antusias dan sibuk menganyam tikar rotan di bawah temaram lampu lima watt.

“Kita akan pindah ke kota.”

“Hmm.”

“Kita akan tinggal di rumah beton dengan isi garasi mobil.”

“Iya.”

“Anak kita akan jadi kebanggaan kampung. Orang-orang pasti iri.”

Kai Djamal meminum tehnya yang hambar, lalu lanjut menganyam.

Arsip Cerpen di Indonesia