Nuri

“Kalau kita sakit, tidak usah bayar.” Nini Laba terus mengkhayal.

Khayalan itu semakin dekat mendekati waktu kelulusan Nuri. Nini Laba tidak bisa menahan senyum. Ia sengaja mendatangi gerombolan ibu-ibu yang sedang mencari kutu dan membicarakan anaknya. Mengatakan ia akan jadi yang pertama dan satu-satunya orang tua dokter.

Anehnya, mereka tidak ambil pusing, terus sibuk menindih mati kutu-kutu dengan kedua kuku mereka.

“Anakku sebentar lagi lulus. Ia akan jadi dokter betulan,” nyanyi Nini Laba. Ia menghitung tanggal dengan teliti seolah menunggu masa subur. Sementara itu, wadi-nya semakin masak di dalam stoples. Kepala ikan mencuat dari permukaan amis air asin yang pekat. Kedua bola matanya bulat membesar. Ungu, hampir kehitaman.

Terkupas di beberapa bagian. Daging-dagingnya lembek dan lepas mencari tambatan sendiri di dasar genangan.

Nini Laba bangga karena wadi buatannya adalah yang terenak di antara semua masakan. Asin, gurih, dan lumer di mulut. Nuri suka makan nasi hangat dengan wadi, meski mengeluh, orang tuanya harus jaga asupan garam agar tidak hipertensi.

Kapan terakhir Nuri mengingatkan mereka? Nini Laba menerawang. Atap sirapnya lama tidak diganti hingga bolong di sana-sini. Ada gantungan baju bekas kerja yang tercemar getah di dinding, juga jas putih, dan celana hitam panjang bekas Nuri di semester awal dulu. Anaknya meninggalkan itu semua di rumah karena ingin membeli yang baru. Di liburan terakhirnya, saat Nuri hendak pulang menyeberang sungai dengan kapal.

Setelah itu batang mereka tenggelam. Jukung terakhir musnah ditelan pasang. Tidak ada lagi kendaraan di air. Lagi pula Kai Djamal tidak membutuhkannya. Sudah tidak ada ladang di seberang sana untuk diurus. Semua sudah ia jual untuk perkebunan sawit.

***

Tanggal 15 Juni. Nini Laba memasak wadi banyak-banyak, semua makanan disusunnya sedemikian rupa agar menarik dan mengundang nafsu makan. Kai Djamal hanya bisa menatap pedih itu semua.

“Anakku calon dokter.”

“Iya.”

“Kenapa dia belum datang?”

“Nanti sebentar lagi,” Kai Djamal menyabarkan. Berbeda dengan Nini Laba, sang suami mengenakan setelan baju muslim lengkap dengan peci dan buku Surah Yasin di tangan. “Kita jemput Nuri, ya.”

Arsip Cerpen di Indonesia