Nuri

Nini Laba terdiam. Tiba-tiba saja ia ingat kenapa anaknya terasa sangat lama pulang. Kenapa ada ruang kosong di dinding. Kenapa perahunya tidak lagi tertambat di rumah. “Nuri akan pulang.” Ia terus meyakini itu.

“Kita akan mendatanginya.”

“Anak kita dokter.”

“Ayo pergi.”

Jas putih lusuh. Stetoskop rusak di dekat pengukir karet. “Nuri anakku, dia dokter.”

“Kita akan makan di sana bersama Nuri.”

Nini Laba menangis, lagi. Untuk kesekian kalinya di tanggal 15, ia mendapati kenyataan berputar-putar dalam kepalanya. “Anakku tahu gejala dan tanda penyakit. Dia dokter,” raungnya.

Kai Djamal cuma bisa memeluk perempuan renta itu dibarengi tatapan Nuri, dari bingkai foto yang dimakan kusam.

Arsip Cerpen di Indonesia