Sikapnya yang tenang membuatku tidak mengambil sikap frontal dan terburu-buru. Kucoba saja mengajak bercakap, “Apa yang kamu lihat ai bawah sana?” Karena menurutku, tidak ada yang menarik pada riak air sungai sekitar dua puluh meter di bawah kami.
Ia tidak menoleh ke arahku, walau tetap menukas, “Suamiku.”
Sontak terkesiap, menyadari dugaanku meleset. Justru suaminya yang telah bunuh diri di jembatan ini. Melihatnya pada dua senja yang berbeda, tentu ia datang untuk meratapinya. Namun, ah, tetap saja aku harus mencegah, bisa jadi ia pun sedang merencanakan menyusul suaminya.
“Kapan kejadiannya?” kucoba menyeret obrolan makin jauh.
“Setahun belakangan ini.”
Dalam kernyit, alisku tertaut. Aku kian bingung saat ia meneruskan, “Dia berbuat begitu justru ketika kami sudah memiliki tiga anak. Awalnya sih, aku juga tidak percaya. Tapi karena makin banyak teman mengaku pernah melihatnya, maka aku pun ingin membuktikan.”
Merasa aneh dengan penjelasannya, lekas kusergah, “Membuktikan… eh, bahwa dia bunuh diri, begitu?”
Barulah ia menoleh ke arahku. Kumanfaatkan waktu sekian detik itu mengamati lesi bibirnya, yang bergetar, mungkin oleh dingin yang diantar terpaan angin. Kutatap pula matanya yang redup, seakan telah kehilangan kerjap. “Suamiku tidak bunuh diri.” Ia kacakan kembali wajahnya ke arah permukaan air sungai. “Justru aku yang mau bunuh diri, bila memang suamiku menyeleweng. Banyak yang bilang, mereka suka memakai hotel di sana itu….”
Menatap dari tempat kami berdiri, terlihat di sana memang ada sebuah hotel. Kedua sisi sungai yang sedikit berkelok menjauhi jembatan diapit jalan beraspal. Hotel itu ada di sisi kanan sungai, menghadap ke jalan itu, sekilas kuhitung berlantai sembilan. Ada taman kecil memanjang, mengantarai teras hotel dengan lapangan tempat parkir. Jejer pohon palem, dua pohon mangga kalau aku tidak salah terka, masih cukup rendah untuk menghalangi pandangan dari ketinggian jembatan. Wujud orang-orang yang masuk atau keluar dari hotel memang bisa terlihat, demikian pula pintu lobinya, tapi mengenali secara persis siapa orang yang masuk atau keluar pintu hotel itu jelas tidak mungkin. Sosok mereka cukup kecil terlihat. Perlu sebuah teropong untuk memastikan siapa orangnya.