Perempuan di Atas Jembatan

Hendak kukatakan yang kupikirkan itu, perempuan di sampingku malah membuyarkan, “Kalau memang terbukti dia menyia-nyiakan kesetiaanku, aku akan melompat dari jembatan ini.”

Kecemasanku di awal tadi ternyata betul. Sekilas menoleh, mengamati sisi wajahnya yang kunilai cukup cantik, aku berkata, “Jadi, dua hari ini kamu mengawasi pintu hotel itu?”

“Ingin kubuktikan omongan orang,” jawabnya. “Entah apa, ya, yang membuat seorang lelaki berpaling ke perempuan lain, setelah seluruh kesetiaan yang kami miliki hanya untuknya. Setelah seluruh pengabdian kami sebagai istri telah kami persembahkan padanya. Kalau demikian, untuk apa lagi kami hidup? Atau memilih balas dendam, mencoba berbuat serupa? Oh, tidak, biarlah kularung saja pedih luka perasaanku, ke bawah sana….”

Suaranya mendadak terhenti, tapi hanya dalam hitungan detik sebelum ia memekik, “Itu suamiku! Dia masuk ke hotel itu, menggandeng perempuan itu…. Oh, jadi memang betul….”

Pekiknya menyeret tatapku ke arah hotel. Memang bisa kulihat ada orang masuk dan keluar dari hotel, tapi tidak bisa terlihat jelas wajahnya. Tanpa menoleh aku bertanya, “Yang mana? Yang pakai baju warna apa?”

Entah berapa jenak, tidak juga ada cetus suaranya, kupalingkan wajah ke arahnya. Terpa angin dari arah muara yang ada di belakangku langsung menampar pipiku. Kurasakan wajahku mendadak kehilangan suplai darah. Tubuhku seketika beku. Perempuan itu sudah tidak ada di sampingku!

Oh, tentu ia telah melompat….

Kejadian ini akan menjadi kesalahan besar dalam hidupku! Seorang perempuan yang sedang bercakap-cakap denganku, yang kutahu memang sedang merancang kematiannya dan aku sebenarnya ditakdirkan untuk mencegah, ternyata begitu gampang ia melakukannya. Ia hanya semeter di sampingku, bahkan boleh jadi kurang dari itu karena sejak tadi aku menggeser tubuh kian dekat, ternyata tidak juga bisa berbuat apa-apa.

Tadi aku gagal mengalihkan perhatiannya, tidak berhasil mengajak bercakap lebih lama. Betapa bebalnya aku! Mestinya aku ikut berdosa!

Dalam telikung sesal dan bingung, kuamati dengan saksama permukaan air di bawah sana. Sesuatu mengusik benakku. Secepat apa tadi ia menaiki jerjak jembatan, tanpa mengundang perhatianku, lalu melompat dan langsung pula menghilang dari permukaan air? Harusnya rnataku masih bisa melihatnya meluncur turun ke bawah sana karena tempat yang kupijak ini cukup jauh berjarak dari permukaan air sungai detik sebelum tertelan air.

Arsip Cerpen di Indonesia