Perempuan di Atas Jembatan

Usik pikiran lain ikut mengganggu: ke mana topi lebar pink yang tadi menutupi kepalanya? Warna semencolok itu dengan mudah dapat terlihat mengapung di permukaan air. Di bawah sana, tidak terlihat sama sekali. Bahkan harusnya masih sempat melayang-layang dalam permainan angin. Bersama pemiliknya, topi itu seakan menguap!

Dengan semua kegasalan itu, dalam rasa bersalah disertai gigil akibat terlalu banyak diterpa angin senja yang mulai mengencang, aku melangkah lunglai meninggalkan jembatan.

Gegas kulajukan kembali motorku, menikung dan menurun ke arah hotel yang tadi ia tunjuk. Aku masuk ke halaman hotel, lalu berbalik mendongak ke arah jembatan. Dari sini terlihat jelas kemegahan jembatan yang berwarna kuning itu. Yang membuatku kemudian terkesima, menyusul mengerjap-ngerjap bingung, karena di atas jembatan kulihat kembali perempuan itu. Ia tetap bertelekan pada jerjak jembatan, arah berdirinya masih seperti tadi, menghadap ke tempatku di halaman hotel. Kulihat topi pink-nya bagai menyala dalam redup senja.

Serasa ada seribu bingung seketika mengepung isi kepalaku. Ke mana tadi sampai ia hilang dari sampingku? Di sepanjang jembatan, jangankan orang, seekor kucing pun tidak mungkin menyembunyikan tubuhnya untuk tidak terlihat.

Tidak ingin disiksa bingung terlalu lama, kudekati petugas keamanan hotel di gerbang masuk. Masih merasa kesukaran mengatur ritme napas, aku bertanya, “Kamu mengenal perempuan yang ada di atas jembatan itu?”

Bolak-balik petugas itu menatap wajahku, dan memalingkan kepalanya ke arah jembatan. “Yang mana?” ujarnya.

“Yang ada di atas jembatan, bertopi warna pink.” Kutunjuk arah dengan gerak dagu.

Petugas kemanan hotel itu malah kemudian lebih banyak meneliti wajahku. “Saya tidak melihat ada orang di sana,” dia berkata dengan mimik sukar kutafsirkan. “Ciri perempuan yang kamu maksud, mungkin itu yang diceritakan orang telah bunuh diri, melompat dari jembatan itu. Kejadiannva seminggu lalu.”

Sontak kutoleh lagi kepala ke arah jembatan. Di sana, memang tidak kulihat ada orang. ***

 

Pangerang P. Muda. Menulis cerpen di beberapa media. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit Menghimpun Butir Waktu (2017), Svetsna (2018), dan dalam proses terbit Tanah Orang-orang Hilang. Menjadi guru SMK dan berdomisili di Parepare.

Arsip Cerpen di Indonesia