Surga untuk Lelaki yang Tertipu

Kehidupan yang ia jalani sekarang hanya bersifat fana belaka. Jika mau masuk surga, dunia harus bersih dari para pendosa. Bertahun-tahun lamanya, Santo mendambakan surga. Surga yang lebih baik dari dunia dan seisinya.

“Selamat jalan,” kata lelaki tua itu pada Santo. “Kau telah berhasil memenuhi semua syarat yang dibutuhkan. Pergilah dengan hati bulat. Doaku selalu menyertaimu.”

Sebelum berangkat, Santo mencium tangan lelaki tua itu dengan penuh keharuan. “Kutunggu kau di pintu surga,” katanya pelan. Mata lelaki tua itu berkaca-kaca. Ia memeluk dan mencium kening Santo sebagai tanda perpisahan.

Surga adalah sebaik-baiknya tempat kembali.”

Sekarang Santo mengingat kata-kata itu lagi. Ia sedang berdiri di sebuah kafe yang sedang ramai pengunjung. Pemuda itu menyingkirkan pikiran dan pandangan matanya pada kenyataan bahwasanya sebagian dari para pengunjung kafe itu hanyalah anak-anak dan wanita. Pada langkah ke tigapuluh, lelaki itu menekan picu di dadanya dan semuanya menjadi gelap seketika.

***

Sebelum Santo menuntaskan tugas mulia itu, hatinya kecilnya telah memperingatkan bahwa apa yang akan ia lakukan adalah sesuatu yang sangat dungu. Namun Santo tetap bertahan, mencoba menguatkan diri dan berusaha tidak peduli pada jeritan lantang yang bergema di dadanya itu.

“Ada tujuh lapis cahaya yang akan menghalangimu pergi ke surga. Jika satu lapis saja terbuka, niscaya kau akan menguap jadi udara,” lantang suara hati kecil Santo berteriak. “Cahaya yang terlalu terang tidak hanya akan membutakan mata lahir, namun juga mata batin. Jika tak mawas diri, kau akan terbakar sia-sia.”

“Apa pun risikonya, aku akan menerima,” sanggah suara lain di kepala Santo tak kalah lantang. “Apa pun yang terjadi, agama ini akan kubela sampai mati.”

“Aku hanya mengingatkan,” ujar suara itu tak mau menyerah. “Aku harap kau tahu apa yang sedang kaulakukan. Kau masih memiliki kesempatan untuk menghentikan semua ini.”

Santo mengabaikan suara itu. Namun penyesalan datang mengungkungnya dari segala penjuru. Ia terkurung dalam ruang terang yang sangat lapang, tercekik sensasi menyilaukan yang meremas bola mata. Entah bagaimana ia bisa berada di sana. Seolah-olah ada kekosongan dalam ingatannya sebelum ia berada di sana.

Arsip Cerpen di Indonesia