Santo hanya mampu mengingat sekelumit peristiwa. Pagi itu, di sebuah kafe, sebuah ledakan hebat membuat jiwanya terbang bersama segala ingatan yang berhamburan dari tubuh dan tempurung kepalanya. Selebihnya, Santo tak mampu mengingat apa-apa.
Kebingungan merangsek masuk ke dada dan kepalanya. Menciptakan rasa sesak yang menyakitkan. Santo tak kunjung mengerti alasan mengapa ia bisa berada di tempat itu. Ia bertanya-tanya di dalam hati, apakah ia sudah berada di alam kematian? Atau, mengapa surga tak seperti yang digambarkan di dalam kitab sucinya?
Santo diam sejenak, kepalanya tertunduk. Ia sangat berharap ada yang sudiberinya jawaban, tapi tidak ada. Hanya denging kesunyian yang menusuk-nusuk dinding tebal rasa sabarnya. Pada akhirnya dinding kesabaran itu runtuh dan ia meneriakkan katakata paling buruk yang pernah keluar dari mulutnya sepanjang hidup.
“Aku sudah muak! Dengar, aku sudah muak! Keparat! Di mana aku berada?”
Sekarang air mata mulai mengaliri pipinya. Santo tidak bisa lagi menahannya. Tidak bisa lagi menipu diri bahwa ia takut. Suaranya yang bergetar mula-mula mirip suara anak kecil, lalu lama kelamaan mirip lengkingan bayi yang tergeletak dan dilupakan di tempat tidurnya. Pantulan suara itu membuatnya menggigil. Satusatunya suara yang bergema di tempat sunyi itu hanya suara tangisannya, jeritannya meminta tolong, memohon dalam keputusasaan.
“Aku sudah tahu tanpa perlu kauberitahu.”
Setelah beberapa waktu, akhirnya Santo mendengar satu suara yang datang dari arah depan. Suara tanpa sosok. Santo menegakkan punggung perlahanlahan, kemudian memandang ke hadapan dengan ketakutan yang kian meraksasa. Ia menghapus air mata dengan punggung lengan.
“Siapa kau?” tanya Santo gugup.
“Aku adalah dirimu sendiri,” jawab suara tanpa wujud itu. “Yang menemanimu sepanjang hidup.”
Tubuh Santo mulai mengigil. “Apakah aku sudah mati?” tanyanya dengan suara bergetar.
“Kau memang telah mati.”
Jawaban itu membuat sekujur tubuh Santo tiba-tiba lunglai. Suara itu menggema dari balik cahaya, terdengar lembut menentramkan, namun tersirat sebuah ancaman—setidaknya Santo merasa begitu.