Tempatnya bersimpuh telah menjadi padang rumput yang maha indah. Semilir angin membawa aroma bunga yang merekah. Bunga-bunga itu berwarna merah, kuning, hijau, ungu, hitam, putih, emas, perak, jingga dan jutaan warna lain. Semuanya merekah dan menguarkan aroma wangi yang manis.
“Apakah aku sudah berada di surga?” tanya Santo kebingungan.
“Apakah menurutmu kaulayak tinggal di surga?” suara tanpa wujud itu balik bertanya. “Surga tertutup bagi para pendosa.”
Bunga-bunga yang tadi merekah tiba-tiba menguncup. Warna-warna yang melekat pada kelopaknya memudar, lalu kering dan menyerpih seperti kertas yang terbakar. Angin wangi yang tadi semilir, sekarang berganti bau busuk yang menyengat. Batin Santo bergemuruh. Tempat bersimpuhnya berubah menjadi padang tandus panas yang penuh lekang-lekang berdebu.
“Mengapa aku berada di sini? Bukankah guru menjanjikan surga untukku?” tanyanya lirih.
“Kau telah tertipu. Kau tak menggunakan akal dan pikiranmu. Tidak ada surga untukmu. Tidak akan pernah ada.”
Jawaban itu membuat Santo mulai menangis. Ia berteriak-teriak memohon ampunan. Tapi hening, tak ada jawaban. Perlahan-lahan cahaya yang terang itu menjauh, membuat sekelilingnya berangsur menjadi gelap. Suasana berubah menjadi begitu sunyi. Begitu mati.
Santo terbujur dalam kesedihan. Tubuhnya tak mampu lagi bergerak—seolah-olah seluruh kerangkanya telah hancur menjadi abu. Lelaki itu kian keras menangis saat ruang lapang di sekelilingnya mulai bergerak, menyempit dan menghimpit tulang rusuknya satu demi satu. (*)
Adam Yudhistira (1985). Saat ini berhikmat dan bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, cerita anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan online di Tanah Air. Selain menggeluti aktifitas bersastra, ia juga mengelola Taman Baca Masyarakat. Ia aktif di komunitas sastra Pondok Cerita. Buku kumpulan cerpen tunggalnya; Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).