Malam belum larut. Saat aku melihat jam di pergelangan tanganku, waktu baru menunjukkan hampir pukul 20.00. Aku mengeluarkan sepeda motorku untuk segera meluncur ke pesantren. Baru saja aku menyalakan mesin sepeda motor, terasa basah di jok motor. Rupanya gerimis mulai turun. Baru 500 meter aku berkendara, gerimis berubah menjadi hujan deras. Aku memutuskan membelokkan sepeda motorku dan singgah di rumah Sofyan, temanku saat masih sekolah di bangku SD.
***
Menjelang sore hari saat aku baru selesai membaca buku, Mahfud datang ke rumahku. Ia mengucapkan terima kasih padaku karena telah membantunya. Ia bercerita kalau ia merasakan tubuhnya telah kembali segar, kulihat memang ia tampak begitu bugar dan bersemangat. Sungguh sangat berbeda kondisinya dengan semalam.
“Berkat air minum dari Kyai Farid yang kau bawakan untukku tadi malam, badanku kini telah kembali segar. Segala rasa sakit seperti hilang. Benarbenar mujarab air Kyai Farid ya Nur,” Mahfud berkata sambil menggeleng-gelengkan kepala sebagai rasa takjub akan kemujaraban air minum yang aku berikan padanya tadi malam.
Aku kembali memberikan pengertian padanya bahwa sesungguhnya keyakinan yang berlebihan pada air minum yang ia teguk tadi malam adalah sikap yang menjurus ke syirik. Ia terlihat marah dan mulai mengajak berdebat. Untunglah terdengar kumandang azan asar yang menghentikan pertikaian kami. Aku segera mengajak Mahfud pergi ke masjid untuk salat berjemaah.
***
Aku membaca pesan pendek di ponselku.
“Harap datang ke pesantren Al Hikam sore ini bakda asar.” Pesan yang dikirim Kyai Farid itu membuatku sangat terkejut. Ada apakah Kyai Farid memintaku datang ke pesantren. Jangan-jangan aku akan dimintai pertanggungjawaban akan tindakanku beberapa hari yang lalu. Apakah Kyai Farid mengetahui perbuatanku tempo hari dan beliau marah padaku. Pikiranku diselimuti bermacam pertanyaan.
Aku segera memacu sepeda motorku menuju pesantren. Ada perasaan tak enak menyesak di dadaku. Jantungku berdegup kencang ketika aku memasuki halaman pesantren. Suasana pesantren sedang sepi. Sungguh debaran dadaku terasa makin keras dan seolah jantungku ingin copot saat aku masuk ruang tamu dan kulihat sahabatku Mahfud juga berada di situ. Aku merasa sangat bersalah. Aku merasa tatapan Mahfud seperti ingin menelanjangiku. Aku tak berani menatap ke arah Kyai Farid, hanya sempat aku melihat beliau duduk dengan begitu tenangnya. Aku menundukkan kepala menghampiri beliau untuk bersalaman dan mencium telapak tangan beliau sebagai tanda takzimku.