Setelah hening sejenak, Kyai Farid lalu berkata dengan lembut namun penuh wibawa. “Begini ananda Nur. Nanda Mahfud datang kemari untuk mengucapkan terima kasih karena telah sembuh dari sakit setelah minum air yang kuberikan padanya melalui ananda Nur. Sejujurnya aku benarbenar tak mengerti. Itulah mengapa aku memintamu datang kemari. Coba ceritakan apa sebenarnya yang terjadi.”
“Sayaa…saaa….saaa..yaa…sebelumnya mohon maaf Pak Kyai….,” aku sungguh gugup untuk memulai pembicaraan apalagi bercerita lebih lanjut. Kulihat Mahfud juga seperti bingung mendengar ucapan Kyai Farid. Tatapan mata kami saling beradu sesaat. Aku juga merasa bersalah pada sahabatku itu, tapi dari tuturan Kyai Farid dan roman muka Mahfud yang menyiratkan kebingungan, aku menduga Mahfud belum mengetahui juga pokok persoalannya.
“Tak apa, ceritakan saja pada kami berdua. Tak perlu ananda Nur ragu atau takut,” lembut Kyai Farid berkata. Ucapan beliau itu mampu membuatku sedikit lebih tenang.
Beberapa malam lalu sesungguhnya perjalananku tak sampai ke pesantren Kyai Farid. Aku singgah dan berbincang lama dengan Sofyan hingga lebih dari dua jam. Saat malam menunjukkan hampir pukul sebelas malam aku pamit. Sebelum aku pulang, aku sempat minta segelas air putih pada Sofyan yang kemudian dipindahkan ke botol air mineral kosong. Mendengar ceritaku itu, Mahfud terlihat sangat terkejut. Aku lihat ia bangkit dari duduknya sambil telunjuk tangan kanannya diarahkan kepadaku. Kulihat bibirnya bergerak seakan ingin mengucapkan sesuatu. Sepasang matanya terlihat melotot dengan roman muka yang menunjukkan rasa amarah. Aku melihat Kyai Farid dengan tenang mengangkat tangan kirinya dan meminta Mahfud untuk kembali duduk. Beliau kemudian mempersilakan aku untuk meneruskan bicara.
“Sungguh Kyai, saya tak berniat melakukan hal itu, tapi saya juga memiliki alasan jika berbuat seperti itu.” Aku lalu menceritakan pada Kyai Farid tentang prinsip dan keyakinan Mahfud yang menurutku memang kurang pas selama ini.
“Apa yang ananda Nur perbuat bisa dimaafkan dan dimengerti walau itu tetap suatu kesalahan karena telah berbohong. Maaf sebelumnya ananda Mahfud, jujur saya sering merasa heran kenapa ananda Mahfud terlalu sering datang menghadapku untuk hal seperti itu. Bukan hal itu tak boleh, tapi manusia harus ikhtiar dan berusaha untuk mencapai sesuatu. Misalnya jika kau sakit, ya kau harus pergi ke dokter atau minum obat. Jika kau ingin lulus ujian, ya kau harus belajar. Aku tidak pernah merasa keberatan jika ada orang datang kemari untuk meminta segelas air doa karena doa adalah wajib. Tapi yang harus diingat adalah bahwa segala sesuatu itu ditentukan oleh Allah, bukan oleh segelas atau sebotol air. Jadi ikhtiar dan usaha hukumnya menjadi wajib seperti halnya berdoa.”