Cerita Lama Negara Suka dan Negara Neka

Kehidupan mereka baik-baik saja, sampai pembicaraan serius lagi-lagi terjadi. Kali ini Pak Neka yang tahu tentang kondisi keuangan Pak Suka tengah tak stabil, mengusulkan agar Pak Suka meminta anak Pak Neka menjadi model perusahaan pakaian dalam istrinya. Lagi pula, putri Pak Suka terlalu indah jika hanya tinggal di rumah.

Pak Suka diam, mengigit bibir. Meski tersinggung, tak ingin diluapkannya pada sahabatnya. Ia lalu menggeleng.

“Ayolah. Nanti kau menyesal, sobatku,” rayu Pak Neka sekali lagi.

“Kau yang paling mengerti aku, sobatku Neka,” dehem Pak Suka. Meski jari-jarinya harus berdarah mengais tanah, tak akan ia biarkan putrinya mengerjakan hal yang tak masuk akal.

“Sobatku, aku sudah lama ingin katakan ini. Bukannya aku ingin menyinggung atau menyakiti perasaanmu,” suara Pak Neka lembut, “tapi kita hanya hidup sekali. Kau juga tahu itu. Jadi biarlah kau juga menikmati apa yang kunikmati.”

“Aku menghormati pendirianmu,” suara Pak Suka melemah, tapi jelas tak ada keraguan di matanya. “Kau tahu, kekayaan dan kehidupanmu mungkin tak akan berguna nanti, kalau saja kau benar-benar mengerti tentang hidup.”

“Jangan bicara tentang hidup, dengan kau yang tidak punya apa-apa,” gumam Pak Neka. Ia diam sebentar, sebelum tersenyum.

“Lalu temanku, maukah kau buktikan sesuatu. Biar aku percaya padamu.”

Kening pak Suka terangkat.

“Tentang yang kau percayai itu. Apakah orang-orang yang sejenis denganmu itu bisa memberi bukti padaku?” tanya Pak Neka, menantang.

“Jangan terlalu sombong. Ada banyak orang-orang sebelum kita yang ditenggelamkan karena kesombongannya, sobatku,” kepala Pak Suka bergerak ke kanan-kiri.

Pak Neka tertawa kecil. “Entah kenapa aku tetiba jadi penasaran, sobatku. Entah apa kau masih bisa berkata seperti itu jika kita ditempatkan di tempat yang berbeda.”

Dua alis Pak Suka terangkat. Ia menggeleng, tak mengerti.

“Akan kugunakan semua yang kumiliki untuk pendapat kita yang berbeda ini,” kata Pak Neka dengan segala ide di otaknya.

***

Arsip Cerpen di Indonesia