Jadilah sebulan kemudian, rencana Pak Neka benar-benar terwujud. Rencananya disambut baik, hanya dalam beberapa hari Negara terbagi dua—Negara Suka dan Negara Neka.
Penduduk Negara Suka punya pendapat dan pendirian yang sama dengan Pak Suka. Mereka meyakini akan ada kehidupan lain yang akan hadir setelah kehidupan di bumi. Karena itu, mereka bersungguh-sungguh melaksanakan kewajiban untuk kehidupan abadi yang akan datang. Waktu mereka terbagi nyata, melaksanakan ibadah beberapa kali sehari dengan ibadah sunat untuk tambahan pahala.
Berbeda dengan penduduk Negara Neka yang melakukan beraneka ragam pekerjaan. Tak ada waktu yang membatasi kapan mereka harus melakukan suatu kegiatan. Kapan pun dan di mana pun mereka bisa melakukan semua hal yang mereka senangi.
Suatu hari, Pak Neka kedatangan Pak Suka yang bertamu ke istana Negara Neka. Banyak wartawan yang datang, ikut makan malam bersama. Mereka bahkan mengomentari betapa piciknya penduduk Negara sebelah yang pilih-pilih makanan saat melihat Pak Suka tak makan daging yang disediakan ibu Negara Neka.
“Bagaimana, apa kau ingin pindah ke negaraku, sobatku Suka?” tanya Pak Neka, yang merasa kehidupan Negara Suka sangat membosankan.
Pak Suka menggeleng. Ada kekhawatiran di wajahnya. “Sobatku, aku tak bermaksud mengurus negaramu, tapi biarkan aku mengatakan ini padamu. Jangan memberi kebebasan mereka melakukan hal-hal yang bisa menyakiti diri mereka sendiri.”
Pak Neka tertawa. “Kita sudah berada di Negara yang berbeda. Kenapa pula kau masih mengurus kehidupan penduduk Negara ini?”
Kalimat Pak Suka lalu keluar cepat, “azab akan menimpa kalian,” ia jadi sedikit menyesal berkata itu.
Sekali lagi Pak Neka Tertawa. Ia tak percaya itu. Para wartawan tertawa memperhatikan Pak Suka kembali ke negaranya. Mereka lalu gembar-gembor, mengabarkan ke seisi Negara tentang kalimat Pak Suka dan mulai merendahkan Negara suka. Dengan kepercayaan yang tak masuk akal. Dan esoknya, petir menyambar ke sana-ke mari. Terjadi gempa yang seketika menghancurkan istana Negara Neka.
Penduduk Negara Neka mulai merasa kalimat Pak Suka benar adanya. Tapi beberapa berpendapat kalau para penduduk Negara Suka telah meminta bencana untuk Negara mereka.
Pak Suka tak tinggal diam dituduh, “Kami meminta kedamaian semua Negara. Ada banyak hal yang tidak diketahui orang-orang biasa seperti kita.”