Idang Raja

Sebelumnya, Dainon tinggal di ibu kota sebagai tukang sol sepatu namun usahanya terhenti setelah digusur aparat penata kota karena dianggap liar. Setelah itu, Dainon menetap di kampung halamannya. Menggeluti pekerajaan lamanya, menggarap sawah peninggalan orang tua. Kini ia bersama istri dan kelima putra putri mereka tinggal di gubuk tua peninggalan orang tua.

“Ini bunga tujuh rupa, jeruk purut dan kemenyan!” kata Dainon kepada istrinya sambil meyerahkan bungkusan dalam kantong kresek berwarna biru. Mereka akan mempersiapkan  idang raja. Idang raja yang akan dipersembahkan kepada ‘sabahat’ Chik Kaoy sebagai ‘bayaran’ untuk mendatangkan hujan.

Irigasi yang dibangun pemerintah dengan proyek Inpres Bandes era 90-an  di Lhok Asan itu, sudah lama tidak berfungsi. Cara satu-satunya untuk mengairi sawah  adalah menunggu air jatuh dari langit.

“Apa kamu yakin Chik Kaoy dapat memanggil hujan, Neh? Tapi saya kok ragu!”

“Abang ga boleh curiga begitu, Chik Kaoy itu orang dituakan di kampung kita. Tidakkah abang lihat semua orang yang teumamong berhasil sembuh berkat mantranya. Konon ia memperoleh ilmu itu setelah bertapa empat puluh empat hari di sebuah gua di Gunong Halimon,” timpal Nyak Maneh.

Selain ayam putih, bunga tujuh rupa, jeruk purut, kemenyan juga harus dimasukkan dalam idang raja begitu pesan Chik Kaoy kepada setiap warga yang menggarap sawah mereka. Idang raja harus diletakkan tepat sudut barat daya petak sawah. Idang raja  itu harus diletakkan pada Kamis sore selepas asar namun sebelum matahari terbenam.

Jam di dinding menunjukkan angka empat lewat tiga puluh.  Sore itu, Dainon bersiap-siap mengantarkan idang raja ke sawah mereka. dalam idang raja yang dibuat dari anyaman nyiur kelapa sudah ada seekor ayam putih yang telah disembelih namun belum dibersihkan, bunga tujuh rupa, tiga buah jeruk purut dan kemenyan. Begitulah pesan Chik Kaoy.

Ditemani istrinya, Dainon terus menyusuri pematang sawah sambil memikul bungkusan idang raja mencari sudut barat daya tanah sawahnya. sudut yang dicari ditemukan, Dainon meletakan idang raja pas di posisi yang dianjurkan Chik Kaoy.

Pukul enam sore, hujan mengguyur kampung Lhok Asan. Orang-orang kampung menyambut dengan penuh gembira. Betapa tidak, sudah setahun lebih hujan tidak pernah turun di kampung mereka. Lahan sawah yang sebelumnya selalu ditamani padi, setahun belakangan ini terbengkalai begitu saja. Tumbuh ilalang dan belukar.

Arsip Cerpen di Indonesia