“Itulah, saya heran juga, mengapa orang-orang di kampung Lam Kuyuen tega mengusir Chik Kaoy dari kampung mereka padahal dengan adanya Chik Kaoy dia dapat mengobati segala penyakit dan memanggil hujan,” sahut Dainon sambil sesekali menarik dan menghembuskan asap dari rokok kreteknya. Ia duduk di kursi yang dibuatnya sediri dari kayu-kayu amiek yang diambil dari pangglong kayu di seberang rumah mereka.
“Ternyata Chik Kaoy orangnya sakti ya! Betapa berutungnya kampung kita memiliki seorang tokoh sesakti Chik Kaoy, dengan kesaktiannya dia dapat mengobati penyakit dan memanggil hujan,” kata Dainon kepada Nyak Maneh, istrinya yang sedang mengandung anak keenam mereka.
Panglong kayu milik Toke Daniel sudah setahun lebih berdiri di Gampong itu. Chik Kaoy, sehari-hari tinggal di gubuk sebelah utara panglong itu. Kabarnya, toke panglong kayu itu adalah orang kota yang sangat baik hati. Ia membolehkan warga sekitar mengambil kayu-kayu sisa dan tidak terpakai. Dainon dan warga desa lainnya mengambil kayu-kayu ameik itu untuk dijadikan kayu bakar, beruntung jika ada kayu amiek yang bagus bisa dijadikan peralatan rumah tangga seperti kursi dan meja. Tidak hanya itu, Toke Daniel memperkerjakan pemuda-pemuda di panglong miliknya dan juga sering menyumbang ketika kampung Lhok Asan melaksanakan suatu hajatan. Toke Daniel adalah pahlawan.
***
Pukul satu tengah malam. Suara gelegar halilintar melengkapi derasnya hujan yang tak kunjung henti sejak tadi sore. Enam jam lebih sudah, tanpa ada tanda-tanda akan mereda. Anak-anak Dainon masih terlelap. Cuma Januar, anak sulungnya yang belum tidur, ia sibuk dengan gawai barunya. Hujan yang menetes dari celah bubung rumahnya kini semakin deras, tiga kali ganti ember sudah. Cahaya kilat juga kelihatan dari celah-celah dinding rumah. Nyak Maneh sesekali melihat ke atas. Atap rumah mereka yang terbuat dari daun rumbia sepertinya tidak mampu menahan rembesan air hujan. Petuah Chik Kaoy ternyata manjur, Nyak Maneh membatin.
“Diumumkan kepada seluruh warga agar segera bangun dan menyelamatkan barang-barang, Bendungan Paya Thoe jebol. Banjir sudah menerjang kampung kita,” suara Abua Amid terdengar lewat pengeras suara meunasah.
Pagi itu, gampong Lhok Asan, kecoklatan. Beberapa batang pohon tergeletak diatas badan jalan. Rumah penduduk rata-rata setengah meter dipenuhi lumpur. Jembatan patah. Dari kejauhan terlihat idang raja tersangkut dibawah jembatan patah, persis seperti idang raja yang disiapkan oleh Dainon.
***