Manusia Setengah Duda

Apa pun yang dia katakan aku selalu senyum. Karena hanya itu yang aku bisa. Aku takut untuk marah apalagi menangis karena cercaan istri sendiri. Bila aku pencipta kamus bahasa Indonesia, akan kuhapus cengeng itu. Seperti juga aku yang tidak suka mengenal nama-nama rumah sakit, karena tak mau sakit.

Aku selalu merenung dalam gudang yang sudah disulap ini. Perenungan yang mencapai suatu titik, bahwa aku harus pergi dari sini. Bukan sebagai pengungsi, tapi hanya memberi pelajaran bagi dia. Bahwa dia harus segera memerdekakanku sebagai makhluk lelaki yang lebih berkuasa. Titik keputusan itu tak pernah terlaksana sebelum mencapai puncaknya untuk melakukan itu semua.

Aku semakin dijauhi. Keluarga dengan suami istri yang aneh. Tak pemah bertegur sapa ketika berpapasan. Meski sebenarnya dia masih melakukan beberapa hal seperti memasak, tetapi itu juga untuk kepentingan anak-anak. Aku hanya menumpang. Segalanya serba kaku. Serba canggung. Bila dia ada di dapur aku berusaha untuk berada di ruang tengah. Mungkin dia hanya ingin aku tidak ada di sini. Di rumah tempat membesarkan anak-anak. Dan pada puncaknya aku pun segera mengemas pakaian, tanpa dia ketahui. Pergi dengan segala kepiluan.

Aku menumpang di rumah teman yang ngekos di tempat yang lebih mirip kandang ayam tersusun. Tak apalah, yang penting untuk sementara aku menikmati dulu kehidupan seperti ini. Mungkin sebagai bahan refleksi diri untuk kemudian bisa menjadi bahan memperbaiki kehidupan. Biarlah istriku juga dipaksa untuk berpikir dan mungkin menyesal karena telah tega “mengusirku” secara perlahan. Bagaimana bisa hidup, bila sang penjajah tanpa rakyat yang mau bekerja keras.

Kehidupan harus terus berjalan. Nasib adalah bayangan. Terkadang di depan, terkadang di belakang. Ataupun di samping kiri-kanan. Dia mengikutiku sepanjang waktu. Sepanjang perjalanan yang melelahkan ini.

Aku tetap pada pekerjaanku sebagai driver ojol. Menggantungkan rezeki pada kuota. Menge-bid orderan tanpa tahu siapa dan bagaimana bentuknya. Ngorder di malam hari adalah pekerjaan yang menghibur hati. Menanti para karyawan mal, para pemandu lagu, atau pemijat pulang. Mereka adalah para pekerja malam yang tangguh. Dan mereka adalah para customer  yang sering aku order. Seperti penumpang yang satu ini. Seorang karyawan di panti pijat plus-plus di tengah kota.

Penumpang yang cukup cantik. Hitam manis. Dan dia di belakangku dengan santai. Mungkin sedang memegang smartphone. Yang jelas dia tampak tenang menempel di punggungku. Parfumnya wangi. Menyelinap diam-diam ke lubang hidungku. Mencari tahu tentang merek dan jenisnya. Aku sering menemukan wangi ini, pada istriku.

Arsip Cerpen di Indonesia