“Kerja selarut ini, Neng?” tanyaku. Pertanyaan yang sebenarnya sudah biasa kutanyakan sebagai pembuka obrolan.
“Iya, Pak,” jawabnya singkat, “bisa lebih larut lagi. Bisa sampai subuh malah mah.”
“Banyak langganannya ya, Neng?”
“Alhamdulillah, Pak. Rezeki jangan ditolak.”
“Betul, Neng.”
“Bapak juga selarut ini?”
“Iya, Neng. Bisa sampai subuh juga malah mah.”
Dia tertawa kecil.
“Siapa ya peduli dengan nasib kita ya, Neng, kalau bukan kita sendiri.”
“Betul, Pak. Makanya saya mah tidak pernah peduli dengan omongan orang-orang. Mereka gak ngasih makan juga sama saya.”
“Memangnya suka ada yang nyinyir?”
“Bukan ada lagi, Pak. Banyak. Tetangga, teman-teman sekolah dulu, saudara. Tapi saya cuek aja. Ngapain juga dipikirin. Saya gak minta duit ke mereka.”
Aku jadi teringat istriku. Untuk sebuah prinsip wanita ini memang benar. Tapi aku makin cinta pada istriku. Dia bahkan datang seperti bayangan, dan bayangan adalah nasib. Dia datang bersama nasibku. Mengiringi ke mana aku pergi. Aku tak pernah bertanya pada wanita yang menempel di belakangku ini, apakah dia selalu berdoa sebelum dan sesudah bekerja
Di Jalan Bahagia, dia memintaku berhenti. Aku agak terkejut karena tidak sesuai aplikasi.
“Di sini aja, Pak.”
“Ini kan Jalan Bahagia Neng, bukan Jalan Sederhana?” tanyaku.
“Bahagia itu kan sederhana, Pak,” sahutnya sambil tertawa kecil. “Mau ke kosan temanku dulu. Udah janjian.”
“Oh…” Aku yakin dia adalah penyuka film serial SpongeBob.
Hanya tiga hari. Ya, hanya tiga hari aku terlunta tanpa keluarga. Menjadi duda insidental. Aku harus segera menemui istriku. Untuk meminta maaf atas segala penderitaannya selama ini.