Entah apa lelaki yang dipunggunginya itu melakukan sepersis arahannya tadi. Yang sampai di telinga Marni hanyalah helaan napas dan itu sama sekali tak menjelaskan apa pun selain penanda kehidupan. Bahwa sampai hari ini suaminya itu masih hidup, meski dengan kenyataan tidak bisa bekerja lagi karena kehilangan anggota badan yang oleh perusahaan hanya diempati nilai sekian jeti. Nilai itu bahkan tak sanggup menutup biaya amputasi, dan resep-resep susulan ketika sampai sekarang masih disarankan berobat jalan.
Pagi sekali sebelum berangkat kerja, Marni sudah memandikan suaminya itu begitu pula anak mereka. Nasi dengan seperangkat lauknya ia taruh di atas meja kamar, persis di samping lelaki itu dan masih bisa teraih oleh tangannya tanpa banyak bergerak. Semua dari yang kemudian dilakukan Marni setelah itu tak luput dari sepasang mata dan lubang hidungnya.
“Ini bau parfum mahal lo, Mar.”
“Sekali-sekali.”
Di jeda helaan napas berat.
“Masak bagian produksi training-nya di luar kota. Sampai tiga hari lagi.”
Marni tak mengubah fokus dari baju-baju ganti yang ia masukkan secara teliti ke dalam tas ransel. Baju misalkan ia diajak pergi keluar. Baju ketika pergi tidur. Sampai daleman segala tentunya. Harus rajin diganti karena itu penting sekali bagi perempuan seperti dirinya.
Pandangan lelaki itu masih setajam tadi. Tapi pilihan menanggapi adalah sebuah cara membela diri yang konyol. Lelaki itu masih begitu Marni hormati sampai kini. Emak mendidiknya untuk patuh, bakti dan sepenuh mengabdi. Menikah adalah penyelamat perempuan. Dari cap perawan tua. Dari label janda gatel.
Bagian yang tidak dijelaskan dalam ayat yang diajarkan Emak adalah bagaimana jika kemudian pernikahan tidak memberikan hak-hak perempuan. Apakah seorang perempuan hanya cukup diberi status sebagai istri yang punya suami, apapun kondisi yang terjadi dalam pernikahannya.
Dan karena tidak ada dalam penjelasan, Marni pun menafsirkan sesuai pemahamannya sendiri. Ia merasa hanya dibebani kewajiban harus menikah, harus punya suami. Apapun yang terjadi ia tidak boleh minta cerai atau menceraikan. Itu saja.
“Pelangi?”
“Aku sudah membelikan susu formula. Uang jajannya sudah kulipatkan.”
Marni mencium punggung tangan suami yang terus menatapnya dengan tajam. Hidungnya bersin-bersin mencium bau wangi kelewat keras.
***