Lelaki itu menggeleng. “Hari!” jawabnya mantap.
Marcelia menimbang. Dan selama menimbang itu, lelaki itu terus saja mengoceh tentang sebuah negeri jauh yang hendak ia kunjungi. Entah apakah karena negeri itu diisi perempuan tak brengsek semua sehingga ia berkehendak pergi ke sana. Ataukah itu adalah sebuah negeri yang hanya berpenghuni kaum lelaki sehingga tidak akan ada kemungkinan untuk disakiti lagi. Pikiran Marcelia tak mampu menjangkaunya. Yang ia tahu hanya sejauh petakan kamar dengan lenguh-lenguh panjang dari tiap lelaki yang datang.
Tiga sampai empat lelaki mendatanginya dalam sehari, sebelum ia didatangi lelaki itu yang meminta sehari dari waktunya. Bagi Marcelia itu tetap sama saja. Lelaki itu tetap membayarnya sesuai harga. Ia hanya tidak dibayar untuk kepentingan semata bercinta. Kata lelaki itu, duduk dan menyimak ocehannya dan sekali-sekali mengomentari, adalah bentuk pekerjaan juga. Paham itu sama sekali tidak bertentangan dengan konsep Marcelia tentang mendapatkan sesuatu setelah lebih dulu melakukan sesuatu. Pekerjaan memang beda-beda bentuknya.
“Kita tidak akan pernah bertemu lagi. Maukah kau memberiku kenangan berupa hari-hari terakhir yang hangat?”
***
Lelaki itu menatap tajam Marni seperti biasa.
“Kamu kan baru setengah tahun kerja di pabrik sepatu. Masak sudah dapat pesangon segitu banyak?”
Marni tidak menjawab. Pikirannya terlalu senang dengan kenyataan bahwa ia punya warung sekarang. Warung itu dibangun di muka rumah, pada sebagian halaman. Ia tidak perlu lagi menitipkan anaknya pada Emak sewaktu ditinggal bekerja. Tidak perlu membelikan susu formula lagi. Jajan pun tinggal comot dari dagangan yang ia buat untuk dijual di warungnya sendiri.
Marni telah seutuhnya kembali, selama dua puluh empat jam dalam sehari. Pagi sampai sebelum senja ia tidak lagi pergi ke mana-mana. Ia adalah perempuan yang sepatutnya mengurus rumah, anak dan suami, seperti ajaran Emak. Ia juga berharap sepasang mata dan lubang hidung suami kehilangan ketajamannya.
Telah terlarung botol tinggal separuh berisi minyak kelewat wangi, gaun dengan belahan dada rendah, juga lingerie. Tiga hari bersama lelaki itu telah mengembalikan dirinya sebagai benar-benar Marni. Entah apakah lelaki baik itu sudah berada di negeri impiannya sekarang. (M-2)