Marni dan Marcelia

Lelaki itu awalnya hanya pelanggan biasa bagi Marcelia. Menikmati tubuhnya, membayar harga, lalu pergi meninggalkan tumpahan sperma. Di seprai, di beberapa bagian tubuhnya.

Hingga tiba di suatu hari, lelaki itu datang dan tidak meminta hak atas tubuh Marcelia. Padahal, ia sudah membayar sepenuh harga.

“Maaf, aku tidak bisa menerima uangmu.”

Ia menatap Marcelia. Dengan kekaguman yang tidak dibuat-buat.

“Aku melakukannya karena bekerja. Dan aku tidak akan menerima atau meminta apa pun sebelum melakukan apa pun.”

“Kalau begitu, kau cukup diam saja. Duduk saja dan tanpa merasa bosan.”

Marcelia melakukan sepersis perintah. Itu adalah bagian terpenting dalam pekerjaannya. Menjadi sangat harus untuk menuruti apa pun kemauan pelanggan. Ia bukan sebagai pemilik hak berpendapat yang boleh mengatakan tidak mau, itu sungguh menyakitkan, atau jangan begini tapi begitu saja, dan sebagainya.

“Apakah perempuan itu semuanya berengsek? Jawablah!”

“Aku tidak tahu tentang perempuan lain, terlebih semua perempuan. Apakah mereka juga sebagai perempuan yang tak punya banyak pilihan sepertiku.”

“Kalau kau diletakkan di posisi yang dipilihkan oleh orangtuamu untuk urusan lelaki. Lelaki itu lelaki yang baik. Kau hanya harus mengurusnya sepulang bekerja. Apakah kau akan menerima lelaki itu, memperlakukannya sepatutnya suami, tidak kabur dengan laki-laki kekasihmu dan memilih kawin lari?”

Marcelia kembali menuruti perintah. Ia meletakkan diri di posisi yang diinginkan lelaki itu. Dan yang ia temukan adalah sebuah kehidupan yang nyaman. Ia hanya dibebani kewajiban sebagai perempuan. Patuh, penurut, bakti. Benar-benar hanya sebagai perempuan. Bukan sebagai pengganti lelaki yang harus berjumpalitan mengumpulkan uang.

“Aku iri dengan perempuan itu.” Marcelia membuang muka, menyeka butir air mata karena ia kelewat menjiwai peran yang diperintahkan lelaki langganannya.

“Maukah kau menghabiskan waktu beberapa hari saja denganku? Aku akan membayarnya dengan nilai yang tak pernah kamu bayangkan. Dan setelah itu kamu tidak akan iri lagi dengan perempuan mana pun.”

“Bagaimana dengan jam?” Pertama kalinya Marcelia berpendapat. Lebih tepatnya menawar. Itu sungguh menggelikan. Selama ini, lelaki-lelakilah yang selalu melakukan itu karena merasa harga yang ia tawarkan kelewat tinggi.

Arsip Cerpen di Indonesia