Karena melihat kejadian itu aku sudah tak nyaman lagi untuk melanjutkan jalan-jalan. Pikiranku di sisa jarak perjalanan menuju ke rumah tak bisa lepas dari kejadian tadi. Mungkinkah hal itu ada hubungannya dengan cerita-cerita bapak? Sebelum aku keluar rumah, sempat berbincang bersamanya. Bapak mengatakan punya teman karib di desa ini. Kata bapak, jalinan pertemanan itu sangat akrab. Bahkan kata bapak, mereka pernah berikrar, apa pun yang terjadi dengan masa depan, tidak boleh membuat mereka tidak berteman lagi. Kupikir-pikir setelah bapak membuka cerita perihal desa dan rumah ini, aku jadi merasa sejak itu bapak seperti sedang menyajikan cerita bersambung kepadaku. Tapi entah kenapa, karena informasi tentang desa dan rumah ini baru kudapat, terlebih tentang teman lama bapak itu, aku merasa ada sesuatu di balik cerita-cerita tersebut.
Sebelum aku melihat kejadian di makam tadi, meski aku merasa ada hal aneh dengan cerita-cerita bapak. Tetapi, aku tidak punya dugaan yang aneh-aneh terhadap bapak. Dan kejadian di makam tadi tiba-tiba seperti menunjukkan sebuah simpul yang dapat membuka rahasia jalinannya. Tali-tali yang ada di sana itulah yang menghubungkan cerita-cerita bapak selama ini. Sedangkan untuk cerita yang tadi, pada saat aku mau keluar rumah, menjadi semacam penerjemah keadaan. Terlebih tentang apa yang dilakukan bapak, dan apa yang terjadi atas diri bapak sebelum bilang padaku tentang keinginannya untuk pindah ke sini. Seperti misalnya tiba-tiba bapak ingin pensiun dini. Usia bapak sampai tahun ini sebenarnya baru 58 tahun. Seharusnya masih ada sisa 2 tahun berdinas. Setelah beberapa bulan dari keputusan itu, bapak ingin pindah ke sini ini. Dan topik obrolan bapak tadi sore menurutku ada hubungannya dengan alasan yang sesungguhnya, mengapa bapak ingin pindah ke desa ini.
“Bapak tidak bermaksud bohong,”katanya.
“Maksud, Bapak?” tanyaku tidak mengerti.
“Mungkin kamu meragukan cerita bapak, yang waktu muda pernah tinggal di desa ini,” sahutnya.
Entah mengapa bapak seperti tahu kebimbanganku atas apa yang bapak utarakan sebelumnya. Meski begitu, sesungguhnya aku juga tak ingin bapak mengetahui aku meragukan ceritanya. Tapi mengapa bapak sepertinya bisa tahu? Ataukah sesungguhnya hal itu hanya perasaan bapak sendiri?
“Tapi tidak semuanya,” sahutnya lagi tanpa menunggu tanggapanku.
“Maksud, Bapak?” Kembali aku mengutarakan pertanyaan yang sama yang kali itu pun karena belum memahami.
“Yang kusampaikan padamu, sebenarnya ada yang hanya rekaan bapak.”
“Jadi?” Aku penasaran.