“Apa itu penting?” Bapak tidak segera menjawab ketika mendengar pertanyaan yang kurencanakan tadi benar-benar aku utarakan kepadanya, bahkan justru langsung gantian balik bertanya.
“Mungkin hal itu bisa menjelaskan semuanya tanpa bapak perlu mengatakan mana kisah nyata dan mana yang rekaan,” jawabku.
Sejenak, sebelum akhirnya bapak mengutarakan alasan kepindahan ini, dengan panjang lebar bapak mencoba menjelaskan dari awal, dari ketika bapak waktu kecil dan Amir kecil masih bersamasama di Sumatra, sampai akhirnya mereka bersama-sama juga pergi ke pulau Jawa. Bapak mengatakan meski pada akhirnya mereka tidak sepahaman, tapi mereka tetap saling berkirim kabar hingga sampailah bapak mendengar kabar eksekusi mati terhadap Amir bersama sepuluh rekannya pada tanggal 19 Desember 1948. Berarti peristiwa itu terjadi sekitar setahun dari Agresi I Belanda. Pada saat bapak mengisahkan itu, kuperhatikan bapak seperti sedang menumpahkan perasaannya, bahwa waktu itu dadanya teramat sesak ketika mendengar kabar kematian Amir, terlebih saat itu bapak tidak bisa menziarahinya karena situasi politik tidak memungkinkan.
Bapak baru bisa menjenguk makamnya tiga tahun setelah peristiwa itu, persisnya pada saat ada beberapa pihak yang berupaya untuk mengurus jasad Amir dan teman-temannya dengan layak. Menggali kembali ke-11 jasad yang bertumpuk-tumpuk itu untuk dirapikan. Tapi bapak sangat merasakan sedih ketika beberapa waktu yang lalu bapak mendengar ada perusakan terhadap makam Amir. Setelah itu tak ada lagi yang berani merawat makamnya. Karena setiap ada orang yang memedulikannya akan dituduh sebagai anteknya, bahkan bisa jadi akan mengancam jiwa. Bapak mendengar hal itu merasa prihatin.
“Bapak ingin menziarahi makamnya?” tanyaku.
“Lebih dari itu,” jawabnya cepat.
“Maksud, Bapak?” Pertanyaanku kali ini tidak dijawab. Bapak hanya diam, bahkan berhari-hari lamanya setelah perbincangan itu pun, kami tidak lagi membicarakan perihal tersebut. Setelah itu kuperhatikan bapak jadi sering pergi dan baru pulang ke rumah ketika hari sudah menjelang malam. Tentu saja hal itu membuatku beberapa kali menduga bahwa ada sesuatu yang disembunyikan bapak dariku. Sampailah di suatu hari yang dingin, dan hawa dinginnya itu lebih dingin dari yang kurasakan di hari-hari sebelumnya, bapak tiba-tiba pamit kepadaku ingin keluar rumah. Yang waktu itu langsung ada dalam benakku adalah, mengapa bapak baru bilang pamit, sementara di hari-hari sebelumnya juga sudah sering keluar rumah.