“Kelak kamu akan tahu sendiri,” sahutnya cepat. “Bapak punya alasan mengapa melakukannya, dan bapak merasa sekarang ini belum waktunya.
“Belum waktunya apa, Pak?”
“Menceritakan alasan yang sebenarnya. Tapi kali ini bapak akan mengatakan kepadamu cerita mana yang sungguhan.”
Setelah itu bapak mengatakan padaku bahwa dia dan temannya itu pernah sama-sama tinggal di desa ini. Mereka benar-benar sangat akrab sampai suatu saat keduanya memilih sendiri-sendiri jalur pengabdiannya terhadap negara ini. Teman bapak memakai jalur organisasi PKI, yang berbeda. Sejak itulah keduanya agak renggang. Namun, tampaknya hanya renggang di lahir, terlebih karena pada dasarnya mereka memang menjadi jarang bertemu. Tetapi bapak sendiri mengakui kedekatan dengan temannya itu tetap terpateri dalam hatinya.
“Amir Syarifoeddin,” katanya lirih, hingga waktu itu aku hampir tidak mendengarnya dengan jelas. “Apa Pak?”
“Itulah namanya, Amir Syarifoeddin.”
“Sebentar, sebentar,”
“Ada apa?” “Aku seperti tidak asing dengan nama itu.” “Kamu mengingatnya?”
“Ya, ya, ya. Aku ingat. Bukankah Amir itu yang pernah menjadi Perdana Menteri? Bukankah dia salah satu orang PKI yang dieksekusi mati itu?”
“Syukurlah, kamu mengingatnya.”
“Pak Amir itu teman bapak?”
Bapak mengangguk pelan. Itulah cerita tadi sore, sebelum aku keluar jalan-jalan, hingga akhirnya mendapati peristiwa di makam itu. Saat pikiranku sampai di sini, aku seperti baru disadarkan bahwa desa ini adalah desa di mana Amir Syarifoeddin dan sepuluh temannya dihabisi. Ah, sepetinya aku mulai bisa menebak-nebak, mana cerita bapak yang benar dan mana cerita bapak yang rekaan belaka. Tapi menurutku hal itu bukan menjadi sesuatu yang penting lagi buatku. Yang cukup menyita perhatianku justru apa tujuan bapak hingga akhirnya memutuskan untuk pindah ke desa ini. Hal inilah yang perlu kutanyakan kepada bapak, dan jawaban dari pertanyaan inilah yang akan menjelaskan semuanya.
Ketika aku sampai rumah, hari sudah mulai gelap. Sebelum aku menemui bapak, aku menyalakan lampu thintir dulu untuk menerangi rumah. Seusai aku bersih diri, kususul bapak yang sedang santai di teras rumah.