Lelah. Satu kata yang tak terucap oleh mulutnya yang terkatup rapat. Dipandanginya putaran jarum jam yang setia melingkar di pergerlangan tangan kanannya. Diembuskan napasnya kasar. Wajah-wajah yang dinantikan tak kunjung datang.
“Inikah balas dendam dari mereka, Pa,” desisnya lembut.
Jemari tangannya mengusap kain kafan yang menjadi pakaian terakhir bagi suaminya. Dulu, suaminya itu paling risih jika memakai pakaian yang dasarnya bukan sutera. Lehernya berkalungkan rantai emas. Dengan gelang-gelang yang terbuat dari sepuhan emas murni dua puluh empat karat melingkari pergelangan tangan kanan dan kiri, juga pergelangan kaki dan kirinya.
Kini, setelah matanya terpejam cukup lama. Deru napasnya yang tak lagi teraba. Sel-sel tubuh yang menua dan pergi. Mulutnya tak dapat lagi protes. Kain putih polos itu pasti membuat tubuhnya gatal-gatal. Memicu alergi kulit karena bahannya tak sehalus sutera.
Bukannya perempuan itu tak mengindahkan permintaan terakhir sang suami yang meminta pakaian berbahan sutera ketika matanya tak lagi dapat terbuka dalam rentang waktu yang teramat panjang, lama. Kepulangan yang mendadak tak lagi sempat memesan pakaian itu. Terlebih jasad suaminya itu diurus oleh orang-orang yang bekerja di rumah sakit. Niat awalnya ingin dibawa pulang. Demi sebuah fakta menyakitkan tersebab tak seorang pun tetangga yang datang menjenguk suaminya di rumah sakit. Perempuan itu memutuskan menyerahkan pengurusan jasad suaminya kepada pihak rumah sakit.
Sehingga masalah memandikan, memakaikan kain kafan tak lagi menjadi masalah yang merisaukan hatinya. Hanya saja, hatinya mendadak sepi sewaktu jenazah itu dibawa pulang. Bendera hitam berkibar di depan rumah saat tertiup angin. Bendera yang melambangkan berita duka seharusnya mampu mengimbau orang-orang untuk datang melayat. Hanya saja rumah mewah yang kini pintunya terbuka lebar-lebar tak kedatangan seorang pelayat yang berasal dari tetangga pun penduduk kampung sebelah.
Hati perempuan itu kian risau tersebab tak ditemukannya seorang pun penggali kubur yang kerap menawarkan jasanya kepada keluarga orang yang meninggal. Bangkit ia mencari penggali kubur. Menyeret kedua kakinya yang sebetulnya terasa lelah ke sana kemari. Belum lagi terik mentari yang membakar kulit-kulitnya yang tipis. Menguarkan hawa panas, memunculkan butiran keringat yang membasahi tubuh.