Tak menemukan apa yang dicari, ia pun kembali. Mendapati rumah mewahnya yang tetap sepi dan akan terus-terusan dicekam sunyi. Pakaian yang basah tak lagi menawarkan kenyamanan. Digantinya dengan pakaian hitam lain yang diambilnya dari lemari berbahan dasar kayu jati. Harganya jutaan, bahkan puluhan juta. Jarang sekali suaminya ketika masih hidup membeli barang murahan. Ia sendiri juga senang dengan gelimang harta. Hanya saja kesenangan itu tak membuahkan bahagia. Terlebih saat kedua anaknya yang sudah berkeluarga memilih tinggal di rumah masing-masing. Rumah yang mereka beli sendiri dengan jerih payah menguras keringat tanpa mengandalkan kekayaan orang tuanya.
Perempuan itu sungguh senang. Akan tetapi satu hal yang teramat disayangkan. Anak-anaknya itu tak pernah lagi datang berkunjung. Untuk sekadar mengenalkan cucu-cucu yang merupakan penerus genetiknya sejak kepergian waktu itu. Bahkan kepergian kedua anak beserta menantunya semakin memperkuat fakta bahwa suaminya memang patut dibenci. Namun, sebagai istri ia tidak bisa meninggalkan lelaki yang telah mengikat janji sehidup semati dengannya begitu saja. Tak punya hati ia membayangkan betapa kesepiannya sang suami jika dirinya ikut pergi meninggalkan rumah mewah itu. Yang terpikir dalam benaknya akan pergi ke mana suaminya mengadu jika ada satu dua orang yang mempunyai hutang tak mau membayar hutangnya ketika ditagih. Tak mungkin pula suaminya itu mengadu kepada anak buahnya yang berbadan kekar. Mereka hanya perlu uang, bekerja demi lembaran rupiah bukan murni karena panggilan hati. Lihatlah, ke mana perginya orang-orang berbadan kekar itu saat suaminya telah berpulang. Mereka layaknya tikus yang bersembunyi dalam rumahnya karena melihat kucing yang tengah kelaparan.
Mobil jenazah dan dua orang petugas rumah sakit datang saat perempuan itu keluar dari kamarnya. Pakaiannya yang basah oleh keringat telah diganti. Kini, ia sudah siap pergi ke tempat pemakaman umum.
Makam yang sepi. Lama sekali petugas rumah sakit menunggu keputusan. Perempuan itu sempat meminta tolong agar petugas berbaju putih itu mau menggalikan kubur suaminya. Itu semua juga demi kebaikan bersama. Kebaikan bagi jenazah supaya tak teramat lama menunggu jasadnya dikembalikan ke tanah. Jawaban yang mengecewakan hati perempuan itu kian mengiris perasaannya.
Diedarkan pandang ke sekeliling. Benar-benar tak tampak seorang pun penggali kubur yang biasanya menawarkan jasa kepada keluarga orang yang baru meninggal dunia. Gubuk reot yang merupakan rumah penjaga makam tampak lengang. Tatapannya perempuan itu semakin tajam. Mencari benda yang bisa digunakan untuk menggali kubur suaminya. Merasa sedikit beruntung perempuan itu sewaktu menemukan cangkul yang tergeletak begitu saja di belakang gubuk reot. Gegas kakinya melangkah. Mendapati jasad suaminya tak lagi berada dalam keranda.