Tanpa mengucap kata pamit kepadanya, petugas rumah sakit yang disewanya lenyap ditelan bumi. Tak mau mengulur waktu lebih lama. Dicangkulnya tanah yang sudah dibeli oleh suaminya sebagai tempat peristirahatan jauh-jauh hari sebelum berpulang. Susah payah perempuan itu mengatur napas. Sekali dua menyeka keringat yang berjatuhan. Tanah berwarna merah yang dicangkulnya semakin banyak menempel. Ia tak peduli. Sebentar lagi gelap menguasai, menenggelamkan mentari yang mulai redup menerangi.
Telapak tangannya yang putih mulus lecet di sana sini. Beberapa benjolan kecil yang didalamnya berisi air mulai membuatnya kesakitan. Saat benjolan itu meletus, perih dan sakit yang terasa. Perempuan itu tak patang arang. Ia sudah berjanji tak akan pernah meninggalkan kesetiaan kepada suaminya.
Dari kejauhan, di balik semak belukar. Orang-orang memandang iba pada istri lintah darat yang tak pernah jenuh menyiksa mereka. Mereka yang katanya miskin dan hidup serba kekurangan, tak punya pilihan selain meminjam uang kepada suami perempuan itu yang memang punya usaha meminjam uang dengan bunga seratus persen. Meski bunga yang ditawarkan sungguhlah mencekik leher peminjamnya. Tetap saja mereka yang benar-benar butuh uang tak segan meminjam uang kepada suami perempuan yang kini menggali kubur seorang diri.
Menjelang tengah malam, barulah tempat peristirahatan terakhir suaminya selesai. Terkuras seluruh tenaganya. Terlampau perih telapak tangannya menahan luka yang tercipta. Gagang cangkul yang terbuat dari kayu itu terasa licin saat bercampur dengan keringat. Terlebih ia juga tak biasa memakai cangkul yang biasanya digunakan kaum lelaki untuk berkebun, ke ladang, dan banyak hal lainnya.
Dikarenakan tiada pilihan lain. Dilemparkan jasad suaminya itu ke dalam kubur. Tiada tangis yang mengiringi. Air matanya sudah terkuras habis. Malam itu juga dipaksakan tangan dan kakinya menutup lubang yang merupakan kubur suaminya sendirian. Orang-orang yang tadinya mengintip dari balik semak belukar telah kembali ke rumah masing-masing. Menyisakan keheningan dan sepi bagi perempuan itu. Sendirian ia kuburkan sang suami. Bahkan kedua anak, menantu, dan juga cucu-cucunya yang sekarang entah sudah berapa jumlahnya tak menampakkan batang hidungnya.
Ia pun pulang dalam keadaan lemas. Saking tak lagi berkuasa, gundukan tanah yang masih merah itu dilepas tanpa ada taburan beraneka jenis bunga dan wewangian. Selebihnya kesunyian yang menjadi teman setia.
Mekar Sari, Dharmasraya