“Minum apa, Pak?”
Tiba-tiba seorang pelayan, perempuan cantik dan manis, berjongkok di depanku sembari menawarkan minuman.
“Saya pesan minuman ringan saja ya,”kataku.
“Minuman apa itu, Pak?”
“Ada fanta?”
Pelayan itu mengangguk dan berlalu di hadapanku. Dua menit kemudian perempuan cantik itu membawa minuman yang telah aku pesan disertai selembar kertas kecil atau nota harga minuman.
Dengan santai aku menikmati minuman dengan sebatang rokok yang terus mengepul di bibirku. Aku menyaksikan pemandangan indah di hadapanku. Sekitar dua atau tiga jam berlalu, sejumlah perempuan telah diboyong oleh para lelaki-lelaki untuk naik di lantai dua. Bahkan ada yang sudah dua kali diboyong oleh lelaki yang berbeda. Namun, sebagian besar dari perempuan-perempuan cantik, wangi dan seksi itu, tidak mendapatkan panggilan. Mereka hanya duduk manis di sebuah kursi yang dibatasi oleh kaca bening. Wajah mereka tampak sabar menunggu giliran.
Beberapa menit kemudian, seorang lelaki agak hitam, rambut kribol, dengan pakain rapi duduk di sebelah kiriku. Lelaki itu seperti mengenal baik wajahku, dan juga sepertinya aku sangat mengenalnya.
“Pak ustaz,” katanya setengah berbisik.
“Iya.”
“Pak ustaz kenal saya?”
“Saya lupa-lupa ingat.”
“Saya Melky, tinggal di lorong 7. Pak ustaz kan tinggal di lorong 6,” kata lelaki itu.
“Oh iya, baru saya ingat.”
Aku dan Pak Melky memang jarang ketemu karena kesibukan masing-masing. Namun, kalau ada pertemuan di kelurahan atau ada pesta tetangga, kami sering bertemu. Dan kali ini kami bertemu di sebuah tempat yang remang-remang (Pasar Daging).
“Pak ustaz, kenapa ada di sini?” tanya Melky dengan nada heran.
“Ya, sama dengan Pak Melky.”
Ia tersenyum dikulum dan menatap wajahku dengan aneh. Mungkin pikirannya berhamburan di kepalanya bahwa aku salah masuk tempat. Karena itu, ia menjadi heran mengapa aku berada di tempat ini.
“Kalau saya sudah sepuluh tahun kerjadisini. Saya asisten Manajer, Pak ustaz,” katanya.