Aku terhentak, ternyata tetanggaku ini bekerja di tempat ini. Aku pun mengangguk-anggukkan kepala.
“Kalau Pak ustaz mau kencang, pilih nomor 9. Namanya Lilis. Dia baru seminggu di tempat ini. Jadi masih asyik, Pak ustaz,” kata Melky, tetanggaku itu dengan enteng.
“Saya cuma ingin bincang-bincang dengan dia. Apa bisa, ya?”
“Ala Pak ustaz, masak bincang-bincang doang. Lilis itu manis Pak ustaz. Bincang-bincang sekaligus kencang, itu yang asyik.” Tetanggaku itu benar-benar menguji keimananku.
“Saya panggilkan Pak ustaz, ya?” katanya.
Ia pun memberi kode, dan mengangkat jarinya dengan membentuk nomor 9. Perempuan yang bernama Lilis itu berdiri dari tempat duduknya menuju lantai dua.
“Kamar 9, Pak ustaz, ya,” kata tetanggaku itu sembari berlalu dari hadapanku.
Pikiranku mulai berkecamuk. Jantungku mulai berdebar-debar, sangat kencang. Tapi aku tetap berusaha untuk mengikuti jejak kakiku menuju lantai dua. Aku sadar bahwa malam ini aku benar-benar menuju ke sebuah tempat yang paling gelap dan mengerikan. Namun, hatiku tetap berbisik dengan sang Kekasihku. Aku hanya ingin melatih diri, agar bisa merasakan kesetiaan pada-Nya.
Ketika pintu kamar No.9 aku buka, kulihat perempuan yang bernama Lilis itu telah berbaring manja di atas kasur empuk. Namun, secepat kilat ia berubah menjadi ular yang berkepala tiga. Ia menyergapku dengan ganas. Melilit tubuhku dengan ganasnya, dan mematok kepala dan kedua tanganku dengan gigi-giginya yang runcing.
Dalam sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku berteriak-teriak, “Tuhan, ampun. Tuhan, ampun. Tuhan, ampun. Tolong…tolong….aku bertobat. Aku hanya latihan.”
Sedetik kemudian, aku tak tahu lagi di mana aku berada. Yang kurasakan, aku telah berada di dunia lain yang paling sunyi dan senyap. (*)
Makassar, 8 Desember 2018.
Muhammad Amir Jaya, tinggal di Makassar. Bergiat di Ikatan Penulis Indonesia Makassar (IPIM) Sulsel dan Komunitas Sastra Nusantara (KOSASTRA). Kumpulan cerpen terbarunya Janda Perawan yang Dilempar Keluar Jendela. Dapat dihubungi melalui email: m.amirjaya@ gmail.com