Pagi sekali sebelum berangkat kerja, Marni sudah memandikan suaminya itu begitu pula anak mereka. Nasi dengan seperangkat lauknya ia taruh di atas meja kamar, persis di samping lelaki itu dan masih bisa teraih oleh tangannya tanpa banyak bergerak. Semua dari yang kemudian dilakukan Marni setelah itu tak luput dari sepasang mata dan lubang hidungnya.
“Ini bau parfum mahal lo, Mar.”
“Sekali-sekali.”
Di jeda helaan napas berat.
“Masak bagian produksi training-nya di luar kota. Sampai tiga hari lagi.”
Marni tak mengubah fokus dari baju-baju ganti yang ia masukkan secara teliti ke dalam tas ransel. Baju misalkan ia diajak pergi keluar. Baju ketika pergi tidur. Sampai daleman segala tentunya. Harus rajin diganti karena itu penting sekali bagi perempuan seperti dirinya.
Pandangan lelaki itu masih setajam tadi. Tapi pilihan menanggapi adalah sebuah cara membela diri yang konyol. Lelaki itu masih begitu Marni hormati sampai kini. Emak mendidiknya untuk patuh, bakti dan sepenuh mengabdi. Menikah adalah penyelamat perempuan. Dari cap perawan tua. Dari label janda gatel.
Bagian yang tidak dijelaskan dalam ayat yang diajarkan Emak adalah bagaimana jika kemudian pernikahan tidak memberikan hak-hak perempuan. Apakah seorang perempuan hanya cukup diberi status sebagai istri yang punya suami, apa pun kondisi yang terjadi dalam pernikahannya.
Dan karena tidak ada dalam penjelasan, Marni pun menafsirkan sesuai pemahamannya sendiri. Ia merasa hanya dibebani kewajiban harus menikah, harus punya suami. Apa pun yang terjadi ia tidak boleh minta cerai atau menceraikan. Itu saja.
“Pelangi?”
“Aku sudah membelikan susu formula. Uang jajannya sudah kulipatkan.”
Marni mencium punggung tangan suami yang terus menatapnya dengan tajam. Hidungnya bersin-bersin mencium bau wangi kelewat keras.
***
Lelaki itu awalnya hanya pelanggan biasa bagi Marcelia. Menikmati tubuhnya, membayar harga, lalu pergi meninggalkan tumpahan sperma. Di seprai, di beberapa bagian tubuhnya.
Hingga tiba di suatu hari, lelaki itu datang dan tidak meminta hak atas tubuh Marcelia. Padahal, ia sudah membayar sepenuh harga.
“Maaf, aku tidak bisa menerima uangmu.”
Ia menatap Marcelia. Dengan kekaguman yang tidak dibuat-buat.
“Aku melakukannya karena bekerja. Dan aku tidak akan menerima atau meminta apa pun sebelum melakukan apa pun.”
“Kalau begitu, kau cukup diam saja. Duduk saja dan tanpa merasa bosan.”