Marcelia melakukan sepersis perintah. Itu adalah bagian terpenting dalam pekerjaannya. Menjadi sangat harus untuk menuruti apa pun kemauan pelanggan. Ia bukan sebagai pemilik hak berpendapat yang boleh mengatakan tidak mau, itu sungguh menyakitkan, atau jangan begini tapi begitu saja, dan sebagainya.
“Apakah perempuan itu semuanya berengsek? Jawablah!”
“Aku tidak tahu tentang perempuan lain, terlebih semua perempuan. Apakah mereka juga sebagai perempuan yang tak punya banyak pilihan sepertiku.”
“Kalau kau diletakkan di posisi yang dipilihkan oleh orang tuamu untuk urusan lelaki. Lelaki itu lelaki yang baik. Kau hanya harus mengurusnya sepulang bekerja. Apakah kau akan menerima lelaki itu, memperlakukannya sepatutnya suami, tidak kabur dengan laki-laki kekasihmu dan memilih kawin lari?”
Marcelia kembali menuruti perintah. Ia meletakkan diri di posisi yang diinginkan lelaki itu. Dan yang ia temukan adalah sebuah kehidupan yang nyaman. Ia hanya dibebani kewajiban sebagai perempuan. Patuh, penurut, bakti. Benar-benar hanya sebagai perempuan. Bukan sebagai pengganti lelaki yang harus berjumpalitan mengumpulkan uang.
“Aku iri dengan perempuan itu.” Marcelia membuang muka, menyeka butir air mata karena ia kelewat menjiwai peran yang diperintahkan lelaki langganannya.
“Maukah kau menghabiskan waktu beberapa hari saja denganku? Aku akan membayarnya dengan nilai yang tak pernah kamu bayangkan. Dan setelah itu kamu tidak akan iri lagi dengan perempuan mana pun.”
“Bagaimana dengan jam?” Pertama kalinya Marcelia berpendapat. Lebih tepatnya menawar. Itu sungguh menggelikan. Selama ini, lelaki-lelakilah yang selalu melakukan itu karena merasa harga yang ia tawarkan kelewat tinggi.
Lelaki itu menggeleng. “Hari!” jawabnya mantap.
Marcelia menimbang. Dan selama menimbang itu, lelaki itu terus saja mengoceh tentang sebuah negeri jauh yang hendak ia kunjungi. Entah apakah karena negeri itu diisi perempuan tak berengsek semua sehingga ia berkehendak pergi ke sana. Ataukah itu adalah sebuah negeri yang hanya berpenghuni kaum lelaki sehingga tidak akan ada kemungkinan untuk disakiti lagi. Pikiran Marcelia tak mampu menjangkaunya. Yang ia tahu hanya sejauh petakan kamar dengan lenguh-lenguh panjang dari tiap lelaki yang datang.
Tiga sampai empat lelaki mendatanginya dalam sehari, sebelum ia didatangi lelaki itu yang meminta sehari dari waktunya. Bagi Marcelia itu tetap sama saja. Lelaki itu tetap membayarnya sesuai harga. Ia hanya tidak dibayar untuk kepentingan semata bercinta. Kata lelaki itu, duduk dan menyimak ocehannya dan sekali-sekali mengomentari, adalah bentuk pekerjaan juga. Paham itu sama sekali tidak bertentangan dengan konsep Marcelia tentang mendapatkan sesuatu setelah lebih dulu melakukan sesuatu. Pekerjaan memang beda-beda bentuknya.
“Kita tidak akan pernah bertemu lagi. Maukah kau memberiku kenangan berupa hari-hari terakhir yang hangat?”
***