Lelaki itu menatap tajam Marni seperti biasa.
“Kamu kan baru setengah tahun kerja di pabrik sepatu. Masak sudah dapat pesangon segitu banyak?”
Marni tidak menjawab. Pikirannya terlalu senang dengan kenyataan bahwa ia punya warung sekarang. Warung itu dibangun di muka rumah, pada sebagian halaman. Ia tidak perlu lagi menitipkan anaknya pada Emak sewaktu ditinggal bekerja. Tidak perlu membelikan susu formula lagi. Jajan pun tinggal comot dari dagangan yang ia buat untuk dijual di warungnya sendiri.
Marni telah seutuhnya kembali, selama dua puluh empat jam dalam sehari. Pagi sampai sebelum senja ia tidak lagi pergi ke mana-mana. Ia adalah perempuan yang sepatutnya mengurus rumah, anak, dan suami, seperti ajaran Emak. Ia juga berharap sepasang mata dan lubang hidung suami kehilangan ketajamannya.
Telah terlarung botol tinggal separuh berisi minyak kelewat wangi, gaun dengan belahan dada rendah, juga lingerie. Tiga hari bersama lelaki itu telah mengembalikan dirinya sebagai benar-benar Marni. Entah apakah lelaki baik itu sudah berada di negeri impiannya sekarang.