Sesuatu yang Bernama, Hidup, Tak Terhingga

Si pelamun menatapi langit-langit seperti orang yang meminta pencerahan. Ia melamunkan, apakah setiap orang bisa merasakan girisan angin pada daun-daun? Apakah setiap orang pernah memikirkan tentang perjalanan waktu tanpa kegoyahan? Pastinya semua orang melupakan itu dengan mencari cara agar tidak bosan dengan bermain game. Menghayal. Menyimak khatib berceramah tanpa selera, hingga terkesan ingin sekali urusan jumatan cepat selesai. Mengambil ponsel, lalu membanjur chatingan. Menilik berapa jumlah like, berapa jumlah komentar, siapa yang berkomentar, apa isi komentar.

Semua itu ia menangkan dengan kesendirian dalam dirinya bahwa ia hanyalah seorang pemuda yang duduk menanti iqamah berkumandang, lantas mengerjakan salat jumat berjamaah.

Di lain kesempatan, aku mengaduk otak si pengemis. Aku mengajaknya mendatangi sejumlah orang yang berdiam di warung kopi. Mengincar meja berpenghuni satu per satu. Menjulurkan tangan, membacakan doa kebaikan dalam gumaman. Kebanyakan malah mengangkat tangan, seraya berkata, “Lake meu’ah beh! (Minta maaf, ya!)”

Dalam kepala orang yang diminta sedekah terngiang alasan, “Tubuh masih sehat, hanya tua. Tapi kesannya pemalas. Malas bekerja secara mulia. Sukanya minta-minta. Kasihan tubuh. Kasihan kehormatannya.”

Hanya beberapa orang yang rela menyisihkan lembaran dua ribu, seribu, receh lima ratus atau seribu di atas telapak tangan. Di dalam otak si pemberi, “Kasihan si ibu ini.”

Perempuan yang kutempati ini sedikit bersyukur, hanya sedikit. Setidaknya perolehannya hari ini lebih banyak ketimbang kemarin di tempat yang sama. Ia lalu bergegas, meninggalkanku. Melekat pada orang lain. Pada seorang pemuda yang bekerja di sebuah institusi pemerintah. Ia adalah pegawai yang baru setahun ini bekerja di sana.

Dulunya ia mahasiswa dari universitas ternama di ibukota. Ia pulang menggondol gelar menterang. Gelar itu kemudian ia tunjukkan pada ayahnya sambil mengiba suatu pekerjaan agar tidak malu. Masa seorang sarjana menganggur? Begitu pikirnya. Ayah yang juga merasa akan tercoreng kehormatannya kalau sang anak belum punya pekerjaan, akhirnya melobi seorang kenalan. Bermodal kedipan mata dan suap, si anak diterima di sana. Tak banyak yang bisa ia kerjakan, selain duduk, mengetik beberapa surat, bermain HP, terbengong-bengong, ngopi, lalu pulang.

Arsip Cerpen di Indonesia