Dan siang ini, ia bosan. Asli! Makanya ia keluyuran sejenak menunggu jam rehat usai. Pukul dua siang nanti, ia akan kembali menuju neraka, neraka bergaji. Ia tak memiliki banyak beban. Karena selama ini hidupnya yang kentara dipermudah. Ia sudah menguasai setampuk warisan dari ayahnya. Setampuk warisan, mulai dari gen, cara berpikir dan harta. Ayahnya seorang pengusaha, namun ia tidak ingin jika si anak mengikuti jejaknya, lebih tepatnya, ia tahu anaknya tak punya cukup kepala untuk memikirkan bisnis. Dalam sesaat, usaha yang ia rintis sejak dulu dengan susah payah akan kolap. Setidaknya dengan menyuruh anaknya bekerja di kantor pemerintahan, si anak akan paham bagaimana berurusan dengan birokrasi, administrasi, hingga relasi. Suatu saat pengalaman itu akan mampu menjembatani keinginan si ayah untuk mewarisi kekayaan dan bisnis tersebut.
Terkadang aku akan merayap menuju ketenangan. Ketenangan yang membenak pada seorang gadis yang rajin menepi di pinggir kali. Ia senang mendatangi tempat itu untuk merehatkan kepalanya dari memikirkan berbagai hal. Pemandangan di sekitar kali layaknya penghapus, yang menggubah kertas corat-coret pensil kembali putih. Kesejukan. Kejernihan. Ikan-ikan yang mencecap-cecap mulutnya ke permukaan, meriakkan air setenang angin. Ah, betapa menenangkan.
Si gadis yang masih kuliah ini, baru saja mendapat musibah. Ia kehilangan laptop beserta tas. Tadi pagi ia hendak salat Dhuha di masjid Jami. Masjid itu lumayan sepi saat itu, hanya di luar banyak lalu-lalang mahasiswa dan dosen. Melihat kondisi yang membuat hatinya yakin aman-aman saja, ia meletakkan tas merah jambu berbentuk karung yang ujungnya akan menguncup jika ditarik pada tali yang melilit, di pinggir pintu masuk masjid. Ia menyimpan beberapa buku kuliah dan buku catatan, lengkap dengan laptop di dalam tas. Lantas ia menuju tempat wudu. Menghabiskan sekitar lima menit di sana. Lima menit yang naas. Lima menit yang mengecewakan. Lima menit yang cukup disesalkan. Pokoknya dalam durasi lima menit, perasaan kecutnya bercampur-aduk.
Sekembalinya dari tempat wudu, sudah bisa dipastikan tas miliknya raib. Ia memperhatikan ke segala arah. Tak ada jejak pencuri. Ia keluar mencari-cari siapa yang baru saja meninggalkan masjid. Namun terlalu banyak orang di luar masjid yang duduk menanti jam kuliah. Gadis manis berkerudung biru itu hanya bisa menangis. Ia tidak tahu mau mengadu pada siapa. Tak mungkin. Karena kasus kehilangan tas dan motor sudah marak di area kampus, tempat di mana masjid juga berdiri.