Di tepi kali yang dipagari besi itu, si gadis menepikan matanya yang berair. Semua bahan kuliah ada di sana, termasuk skripsi yang hampir usai. Semua itu ada di sana. Mau mencari ke mana, ia tidak tahu. Ia sedang mengusahakan ketenangan diri dengan meraup semua keindahan dan ketenangan di sekitarnya. Satu-satu yang bisa ia lakukan sekarang adalah berdoa pada tuhan. Berharap si pencuri menyerahkan barang-barang yang penting miliknya. Selebihnya silakan ambil. Tampaknya jika kisah pencurian ini terjadi seperti harapan si gadis, kisah Rhoma Irama yang menjadi pencuri dalam film Berkelana, akan kembali terulang.
Namun, apakah kalian tahu siapa aku? Aku ada untuk masa lalu, sekarang dan masa depan. Aku ada sebagai bayang-bayang. Sebagian bayang-bayang itu menjadi nyata, dan sebagian lagi mengendap, layaknya perpustakaan yang penuh dengan buku namun pintunya terkunci. Seperti kukatakan sebelumnya, hidupku menumpang seperti parasit. Aku ada karena manusia hidup. Aku ada meskipun manusia mati. Biasanya aku disebut pikiran yang mampu melampaui durasi yang tidak mampu dijangkau oleh kecepatan apa pun. Bisa kaubayangkan, aku selalu dibutuhkan untuk menciptakan perubahan. Untuk melahirkan inovasi dan perkembangan. Aku adalah kebutuhan abadi umat manusia.
Jika aku tak ada, pastikan dunia ini gila. Dihuni oleh manusia-manusia gila dan nyatalah kekacauan.
Ulee Kareng, 27 Oktober 2016
Ikhsan Hasbi, kelahiran Meureudue 1991.