Agar dapat pecah telur, War mendatangi lapak temannya yang memiliki barang yang dicari oleh si gadis belia. Kepada temannya, ia tanyakan berapa jumlah uang yang harus ia setor. Menyadari War sedang melakukan cara tembak di atas kuda, lelaki itu memakuk War dengan harga yang War sendiri tahu bahwasanya lelaki itu sudah mengambil untung besar darinya. Namun, tak ingin ribut dan tak ingin proses jual-belinya menjadi gagal, War terpaksa menerima saja.
War berjalan menuju lapaknya dengan langkah berpadu lari kecil sambil menenteng dompet tembakan merek Zara di tangan kirinya. Rasa bahagia muncul di dalam hati War, sampai-sampai ia tak menghiraukan ucapan seorang pedagang yang lapaknya ia lewati, “War, pelan-pelan. Jantung lu.”
Setibanya di depan lapak, senyum yang sebelumnya menyungging tinggi di setiap sisi pipinya kini hilang dan berubah menjadi kebingungan. Ia putar kepalanya untuk melihat ke segala arah, namun tak kunjung ia menemukan batang hidung gadis itu. Melangkah ia ke depan, dan lalu menoleh ke kiri dan ke kanan, namun masih saja tak ia temui tubuh langsing gadis itu. Pada War, kebingungan tampaknya kini telah menjelma menjadi sebuah kepanikan, yang mungkin sebentar lagi akan menjadi sebuah kekecewaan yang mendalam. Dan tampaknya hal itu benar adanya.
“Celengak-celenguk, cariin siapa, War?” Tanya Girin yang baru saja selesai bertransaksi dengan pembelinya.
“Cewek tadi, Rin. Tadi dia berdiri di sini. Sekarang malah ke mana tu anak.”
“Ohh, cewek tadi. Itu tadi nyelonong ke sana.” Jari telunjuknya mengarah ke arah gadis itu berjalan.
War berjalan ke arah jari telunjuk Girin mengarah. Ia terus berjalan hingga ia mendapati gadis belia itu kembali. Namun justru bukan tawa yang ia dapati ketika melihat gadis belia itu, melainkan sebuah rasa yang tak lain adalah kekecewaan dan kehancuran dalam hatinya. Penampakan yang ia lihat membuat darahnya berdesir dan berguncang seketika, dan tiba-tiba melemah. Gadis belia itu kini sedang berdiri di hadapan Ciluah—lelaki yang memberi dompet tadi. Pada penampakan itu, tampak jelas dompet yang Ciluah pegang sama persis dengan dompet yang War pegang kini. Wanita itu mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada Ciluah, dan lalu melangkah menjauh dan hilang ditelan oleh kerumunan orang.
***