War dan Kekalahannya

“Oh, War. Hidup lu benar-benar miris. Di hari tua lu, lu bahkan ga punya istri. Lu bahkan ga punya keturunan. Dan bahkan lu masih aja tinggal di rumah kontrakan yang ga ada kamarnya. Hidup lu benar-benar susah. Bahkan Ujang bakalan ketawa lihat gimana kehidupan lu sekarang, War.” Terang hatinya yang berkisah penuh pengakuan.

War tak lagi mampu menimpali apa yang diutarakan oleh hatinya. Badannya yang semakin ringkih itu pun ia sandarkan ke dinding yang catnya telah mengelupas. Lama ia termenung sambil menatap foto besar itu, dan berkata, “Iya, betul. Gua emang kalah.”

***

Edo termenung setelah menerima telefon dadakan dari Jun pada pukul 3 pagi. Ia sandarkan tubuhnya pada dinding sofa sambil memberikan tatapan kosong ke arah pangkuannya. Pemandangan itu pun menjadi pertanyaan bagi istrinya yang tidak sepenuhnya menyimak percakapan dadakan itu.

“Siapa itu, Da?” Tanya istrinya dengan penuh keingintahuan.

“Si Jun, Mil. Da War meninggal, Mil.” Terangnya sambil menolehkan pandangan kosongnya ke arah Emil.

“Innalilahi wainnailahi rojiun, apa penyebabnya, Da? Jam berapa meninggalnya?”

Pertanyaan istrinya semakin memburu Edo yang masih menatapnya dengan pandangan kosong. “Jantung, Mil. Padahal dua minggu yang lalu Uda masih bertemu dia di Pasar Baru. Uda sambangi dia. Kehidupannya memang sudah begitu payah. Apalagi, Pasar Baru memang sudah sepi sekali. Kalah dengan mall-mall mewah yang lebih lengkap. Bagai mana pun Uda takkan pernah bisa membalas jasanya ke Uda sewaktu dia jaya sebagai tukang tadah dulu. Dia begitu banyak menolong Uda.” Terdengar lirih suara Edo menceritakannya.

Istrinya pun menyadari betul kepiluan hati suaminya. Sebagai ganti kepe duliannya, ia pun mencoba untuk menjadi pendengar yang baik.

Suaminya bercerita bagaimana kehidupan Da War dan partnernya, Ujang Patah ketika masa jayanya sebagi tukang tadah dulu. Uang hasil jual barang tadah yang ratusan juta itulah yang mereka gunakan untuk membungkam aparat hukum, membuat bisnis mereka melenggang dengan lancar selama 20 ta hun lamanya.

Namun, setelah munculnya dan diadakannya program Tahun Kunjungan Indonesia 1991, di situlah awal-mulanya bisnis mereka mengalami kemunduran yang drastis. Tetapi, War dan Ujang patah tetap bersikeras agar bisnisnya itu tetap bisa berjalan. Mengetahui kerasnya hati mereka, aparat-aparat dari petinggi hingga bawahan yang telah ikut memakan uang bisnis itu tak mau lagi mengambil resiko. Mereka takut, jika bisnis War dan Ujang dibasmi, maka mereka akan bernyanyi dan itu akan menjadi sebuah malapetaka bagi mereka.

Pada Senin pagi di bulan Desember. Tepatnya di Jalan Harmoni, Jakarta. Tergeletak sebuah kantong berwarna hitam. Isinya adalah tubuh Ujang Patah dengan jejak luka jeratan di lehernya. (*)

Arsip Cerpen di Indonesia