War dan Kekalahannya

Seperti biasanya, War menyeret langkah kakinya yang berat di sepanjang jalan yang tak lagi asing baginya, yaitu jalan menuju rumah. Setibanya di rumah, War melihat ke arah dinding yang mana bergantung sebuah foto besar. Di dalam foto itu, ada dua orang pria yang saling merangkul, yaitu dirinya dan Ujang Patah. War tampak begitu perlente di foto yang kira-kira telah berumur 10 tahun itu. Di sana, tampak tubuh War masih terbalut dengan barang-barang branded; kemeja Arrow berwarna putih dengan lengan dilipat sampai ke siku teranger gagah di tubuhnya yang masih tegap; jeans Levi’s yang berwarna telur asin tampak menambah kesan sebagai seorang lelaki borju; dan sepatu Ferradini yang berwarna cokelat muda yang mengalas tapak kakinya tampak semakin mengokohkan ia sebagai orang ikonik di Pasar Baru waktu itu. Sedangkan Ujang Patah—pria kelahiran Flores yang bertubuh pendek itu—tampak steady dan berwibawa dengan stelan Giorgio Armani berwarna biru safir yang membung kus dari leher sampai ujung kakinya.

Melihat potret itu, seketika mengucur air dari sudut bagian terluar mata War. Bukan sebuah kejayaan yang hanya tinggal cerita yang membuat War kembali menitikkan air mata setelah sekian tahun lamanya. Namun, adalah Ujang. Tangis ini adalah tangis akan rindunya terhadap Ujang. Rindunya dan semua rasa bersalahnya terhadap Ujang yang tak akan pernah usai hingga kapan pun. Dan ia, yang tak akan pernah bisa memaafkan dirinya.

“Oh, War. Andai dulu lu bisa berhenti melakukan bisnis itu, War. Mungkin kini lu dan Ujang Patah masih hidup senang dan melakukan bisnis lain.” Hatinya berkata.

Namun ia menjawab, “Bagaimana gua bisa hidup senang. Satu-satunya jalan waktu itu adalah tetap menjalankan bisnis itu. Tidak ada yang lain. Contohnya lihatlah kini. Gua bahkan cemburu dengan transaksi jual beli si Ciluah yang jumlahnya tak sampai seratus ribu itu. Sedangkan dulu, seratus ribu sama sekali tak ada nilainya bagi gua.” Timpalnya.

“Oh, War. Tentu saja lu bisa hidup senang. 20 ta hun lamanya bisnis lu itu melenggang dengan lancar. Bahkan tiap tahunnya semakin subur. Omset lu sebulan 2 miliar. Setahun aja omset lu udah 24 miliar, War, dan lu cuma berbagi sama Ujang, yang berarti lu menghasilkan 12 miliar per-tahun. Dan bisnis lu itu berjalan selama 20 tahun! Harusnya lu udah bisa beli rumah, War. Harusnya lu udah bisa punya investasi. Harusnya lu udah punya bisnis yang halal dan meng hasilkan. Kalau lu bisa ngatur tu duit, mungkin lu udah bisa beli saham Blue bird Taxi. Tapi sayangnya, lu ga mikir sampai ke situ, War. Lu Cuma berpikir bisnis lu itu bakal cuma seperti itu selamanya. Lu ga berpikir bahwa roda itu berputar, War.”

“Dan lihatlah sekarang gimana hidup lu, War. Lu luntang-lantung. Udah seminggu dagangan lu ga laku-laku. Dan pendirian lu sebagai orang yang idealis semakin menyiksa diri lu. Lu pantang untuk minta. Namun, untuk memberi lu nomor satu. Waktu kaya dulu, lu terlalu dermawan ke orang-orang di sekitar lu. Pedagang kaki lima minjem duit lu, jutaan, tapi ga dibayar, dan lu diem aja. sekarang, lihat apa yang mereka lakuin ke lu. Mereka bahkan menghindar dari lu. Dulu, adik-adik lu di kampung sana lu kirimin duit berpuluh-puluh juta tiap bulannya. Tapi liat reaksinya ketika tiga hari yang lalu lu minjem duit ke mereka, mereka bahkan ga mau tahu, War. Untung sekarang lu masih bisa makan karena duit yang dikasih si Edo ke lu dua minggu lalu.”

Arsip Cerpen di Indonesia