Memoar 17 Ibu

Pembaca mudah menebak bahwasanya tulisan-tulisan dalam buku ini hampir serupa. Menceritakan pengalaman masing-masing penulis dengan ibu dan/atau keluarga di masa kecil, tumbuh menjadi perempuan, gusar oleh pernikahan, menanti mengalami kehamilan, melahirkan, sampai melakoni diri sebagai ibu perempuan pekerja.

Ibu Bercerita, tulisan Aryani Kusumastuti Wahyu Lestari, merupakan tulisan dengan napas paling panjang, tiga puluh lima halaman! Dalam acara bedah buku di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko, Solo (18 Desember lalu), ia mengaku baru pertama kali menulis setelah merampungkan tugas akhir perkuliahan yang sudah lama berlalu. Bertemu dan mengalami persinggungan dengan banyak penulis selama bekerja di Balai Soedjatmoko kiranya menjadi amunisi Aryani melahirkan tulisan personal yang panjang.

Aryani membuka cerita dengan kenangan masa kanak-kanak bersama ibu. Dari soal ibu mengomel, kantong ajaib Doraemon, libur mandi, selimut waktu, bapak yang galak, hingga masakan. Ia juga terang-terangan menunjukkan ketidaksepakatan terhadap sikap bapak yang tampak menguasai ibu. Saat usianya 19 tahun, ia nekat menggugat ibunya, kenapa ibunya tak bercerai saja dari bapak. Jawaban ibunya khas perempuan kebanyakan. “Menikah itu sekali, mengucap janji suci kepada Tuhan itu satu kali. Bawa janjimu itu sampai kamu mati!” (hlm. 126). Bercerai itu tabu. Betapa pun menyakitkan hidup yang dijalani ibu dalam pernikahannya, ibu memilih kalah. Itu dinilai lebih baik.

Kata ibu lagi, “Kamu akan mengerti kalau kamu besok berumah tangga. Apa pun yang kamu alami, semua sudah diatur oleh Tuhan. Pasrah saja” (hlm. 126). Benar saja, tawar-menawar itu wajar dan mesti dilakoni setiap perempuan yang menikah. Tawar-menawar dengan kebutuhan atau malah eksistensi diri sebagai pribadi, keluarga, anak-anak, dan tugas-tugas ibu perempuan di keseharian.

Astuti Parengkuh, dalam tulisannya yang berjudul Orangtua Itu…, berkisah, ia menikah pada usia 19 tahun. Peristiwa itu menjadi tanda tersingkirnya cita-cita untuk berkuliah dan mendalami kegemarannya menulis. Tak peduli kondisi ekonomi keluarga sedang bagus, keinginan kuliah itu memang sebaiknya pupus. Ia mesti melakoni diri sebagai ibu rumah tangga. Mengurus suami, anak, mertua, ipar.

Dalam kehidupan perempuan, sampai kapan pun keberadaan lelaki seperti bilah pisau. Beberapa penulis mengisahkan dirinya mengalami masa tak melegakan dengan sosok lelaki dalam citra bapak atau suami. Hampir selalu kita jumpai kekerasan fisik, dan lebih banyak lagi psikis, terhadap perempuan yang berumah tangga. Kendati tak tertutup kemungkinan hal sebaliknya terjadi.

Arsip Cerpen di Indonesia