Memoar 17 Ibu

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa (Koran Tempo, 02-03 Maret 2019)

Tulisan Itu Ibu ilustrasi Istimewa
Tulisan Itu Ibu ilustrasi Istimewa

Nama penulis sering kali menjadi pertimbangan seseorang yang akan membaca sebuah buku. Tapi buku Tulisan Itu Ibu (2018), yang ditulis 17 ibu dari beragam latar belakang pekerjaan, hadir sebagai anomali. Mereka seniman tari, akademikus, koreografer, pekerja fashion, penyanyi, pegiat film, hingga pegiat komunitas-menyulap diri menjadi penulis, meski ada juga yang berprofesi penulis.

Di tengah kegiatan melakoni kebutuhan alamiah keperempuanan sebagai ibu rumah tangga, ibu-ibu ini tetap memelihara cita-cita individualnya. Bekerja dan berkegiatan dengan riang gembira tak perlu dianggap sebagai penghalang, termasuk status dan perannya sebagai “ibu”.

Tulisan Itu Ibu hampir utuh sebagai memoar. Sementara satu tulisan tampak mencolok, sebab berbeda dengan yang kebanyakan. Judul tulisan itu Perempuan: Pada Mulanya, Pada Akhirnya karya Fawarti Gendra Nata Utami. Pembuka tulisan mencantumkan lirik lagu perkara ibu yang telanjur fenomenal: Bunda karya Melly Goeslaw. Pembukaan yang cukup mengganggu niat untuk meneruskan membaca.

Namun paragraf-paragraf berikutnya lekas mengobati ciut hati pembaca. Alih-alih menuliskan pengalaman diri melakoni sebagai ibu perempuan pekerja, penulis memilih perspektif tema dan keterlibatan ibu perempuan dalam ranah seni pertunjukan. Kendati ia membuka tulisan dengan pengalaman dirinya sebagai perempuan menikah yang lama menanti sampai mendapatkan buah hati, ia lekas berupaya melepaskan diri dari jerat keakuannya itu. “Untuk itu, saya lebih akan mengulik tema ibu perempuan. Sosok ini banyak mengilhami karya seni pertunjukan, khususnya oleh pengkarya yang juga perempuan” (hlm. 61).

Latar belakang Fawarti sebagai akademikus tersurat dari pilihan kata dan gaya bahasa yang dicoba digulirkan. Menurut dia, persoalan perempuan seperti peran ganda mereka, profesi, hingga persoalan seks mereka masih dibahas dalam rupa-rupa forum. Tema ini terus menarik selama publik masih terperangah mendapati para perempuan bekerja/berkarya di ranah yang sejauh ini diamini masyarakat kita yang patriarkis sebagai ranah laki-laki.

Arsip Cerpen di Indonesia